Breaking News:

Opini

Ekonomi Sirkular Sebuah Alternatif

masyarakat Indonesia masih menganggap isu global terkait lingkungan masih tidak terlalu penting dibandingkan isu rasial dan agama

Ekonomi Sirkular Sebuah Alternatif
FOR SERAMBINEWS.COM
DESY MARITHA, SE.Ak, MA, MSE Analis Kebijakan Ahli Muda di Puslatbang KHAN LAN RI, Aceh

OLEH DESY MARITHA, SE.Ak, MA, MSE Analis Kebijakan Ahli Muda di Puslatbang KHAN LAN RI, Aceh

"IF YOU really think the environment is less important than the economy, try holding your breath while you count your money"- Anonymous. Kutipan di atas merupakan salah satu kutipan yang digunakan dalam merespons peringatan hari lingkungan hidup sedunia setiap tanggal 5 Juni.

Hal ini menjadi `alert' bagi kita semua, bahwa dewasa ini tuntutan perhatian terhadap lingkungan tidak kalah penting dibandingkan dengan isu ekonomi di masa pandemi covid-19.

Menurut survey online yang dilakukan, masyarakat Indonesia masih menganggap isu global terkait lingkungan masih tidak terlalu penting dibandingkan isu rasial dan agama. Padahal nyatanya, berdasarkan beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa degradasi lingkungan dewasa ini yang menyebabkan Indonesia rentan terhadap bencana alam. Hingga akhir 2020 sudah sebanyak tiga juta orang mengalami pemutusan hubungan kerja.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pun dalam pidatonya pernah mengisyaratkan, bahwa setiap masyarakat di Indonesia harus bersiap-siap dengan kecenderungan keadaan ekonomi yang semakin menurun, dan berujung dengan resesi, hingga ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir. Hal ini menambah kegalauan masyarakat kita terhadap keterpurukan ekonomi seperti yang kita hadapi dewasa ini.

Dari hal tersebut, kita belajar bahwa sudah saatnya Indonesia memiliki alternatif kebijakan ekonomi yang lebih friendly baik secara sosial maupun lingkungan ditengah pandemi covid-19. Overview ekonomi sirkular Ekonomi sirkular mengadopsi konsep 5R sebagai inti, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang), recover (memulihkan), dan revalue (memberikan nilai tambah).

Lima aktivitas tersebut menggantikan konsep ekonomi konvensional terdahulu, yaitu take-make-waste (ambil-buat-buang), yang menganggap bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara tidak terbatas. Kebijakan ini dipandang bukan hanya sebagai kesempatan untuk memperbaiki perekonomian, tetapi juga sebagai salah satu jalan untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan alam, yang semakin rentan terhadap bencana alam.

Kebijakan ini menawarkan peluang nyata untuk mengembangkan produk dan layanan baru dengan menggunakan bahan limbah, serta menekankan pada pemanfaatan sumber daya alam secara berulang, dengan tujuan untuk mengurangi produksi sampah, emisi karbon dan energi yang dikeluarkan. Keseluruhan dari tahapan siklus ekonomi sirkular merupakan pekerjaan yang ramah lingkungan (green jobs).

Saat ini ekonomi sirkular masih belum digalakkan secara massif di Indonesia, padahal beberapa negara di Eropa sudah terlebih dahulu mengadopsi kebijakan tersebut, sebut saja Finlandia yang sejak 2016 hingga saat ini sudah beberapa kali memperbaharui kebijakan ekonomi sirkularnya. Ada Prancis, sejak 2015, Romanis, Slovakia, Spanyol dan lainnya yang sudah lebih dahulu menjadikan ekonomi sirkular sebagai visi pembangunannya dalam dokumen perencanaan nasional.

Sedangkan pemerintah Indonesia, masih dalam tahapan awal, telah berkerja sama dengan UNDP dan Pemerintah Denmark menyusun kajian awal terkait dengan analisis studi potensi lingkungan, ekonomi dan sosial terhadap penerapan ekonomi sirkular di Indonesia, fokusnya adalah meliputi lima sektor industri, yaitu makanan dan minuman, konstruksi, elektronik, tekstil dan perdagangan eceran/ retail (yang terfokus pada kemasan plastik). Sektor-sektor ini memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, karena berkontribusi lebih dari 30 persen dalam PDB Indonesia, dan mempekerjakan lebih dari 43 juta orang atau sepertiga dari tenaga kerja Indonesia pada tahun 2019.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved