Breaking News:

Opini

Inovasi Meraih Takwa

Anugerah bulan suci Ramadhan kepada umat Islam haruslah disyukuri oleh kita. Ini sekaligus menjadi pertanda bahwa Allah sungguh sayang

Inovasi Meraih Takwa
IST
Munawir Umar, Kaprodi Hukum Keluarga IAI Al-Ghurabaa, Jakarta

Oleh Munawir Umar, Kaprodi Hukum Keluarga IAI Al-Ghurabaa, Jakarta

Anugerah bulan suci Ramadhan kepada umat Islam haruslah disyukuri oleh kita. Ini sekaligus menjadi pertanda bahwa Allah sungguh sayang kepada hamba-Nya dengan menyediakan perantara agar mereka selalu dekat dengan-Nya. Persoalan yang muncul adalah bagaimana kita mampu menggapai anugerah tersebut secara maksimal sebagaimana yang diharapkan tanpa adanya hambatan-meskipun adanya hambatan, maka itu bernilai ibadah.

Sebab realitas yang terlihat adalah betapa banyak orang yang mendambakan datangnya bulan suci Ramadhan, tapi justru ketika Ramadhan menghampiri, malah luput dari segenap kelebihannya. Maka tulisan ini sebagai jawaban sekaligus menjadi titik terang agar kita tidak dalam kebimbangan dalam menggapai ridha Tuhan.

Allah Swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menjadi poin paling mendasar dalam rangka menjadikan puasa sebagai ibadah untuk dipersembahkan kepada Allah Swt.

Bila diperhatikan secara jeli, maka dalam ayat tersebut akan ditemukan bahwa ada tiga hal besar yang mesti dipenuhi umat Islam

dalam rangka berpuasa. Pertama adalah aspek iman (akidah); keimanan menjadi modal awal untuk menggerakkan lokomotif puasa agar sampai pada tujuan. Sebab tanpa iman, orang hanya akan melakukan puasa sekedar untuk melepaskan kewajiban dan tuntutan saja, tidak lebih.

Padahal Muhammad Az-Zuhaili dalam Al-Mu'tamad fi Fiqh Al-Syafi'i berkata, bahwa di antara hikmah disyariatkannya puasa kepada manusia adalah untuk menguatkan stabilitas keimanan, akidah serta keyakinan mereka kepada Allah Swt dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan.

Sebab dalam berpuasa akan kita dapat segala perintah yang menjurus untuk semakin taat kepada Allah, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Bahkan dalam rangka menggapai tujuan itu pun, Allah melarang kita untuk memakan yang telah dihalalkan pada siang hari. Maka salah satu cara agar mampu menetralisir diri adalah dengan berpuasa, salah satunya pada bulan Ramadhan. (Muhammad Az-Zuhaili: 2: 157-158).

Kedua adalah aspek syari'at yang tercermin pada puasa itu sendiri sebagai salah satu bagian dari rukun Islam yang diketahui semua orang. Meskipun barangkali memang diketahui oleh semua orang sebagai sebuah kewajiban, tetapi sayangnya tidak diresapi oleh mereka secara totalitas sebagai sebuah syariat yang benar-benar datang dari Allah Swt.

Secara umum, mereka hanya memahami bahwa puasa adalah menahan makan, haus dan dahaga. Padahal bila hendak diperhatikan, dalam semua kitab fikih kita dapatkan, bahwa puasa mengandung arti menahan diri dari sesuatu yang khusus, pada waktu yang khusus (dari terbit fajar hingga terbenam matahari), yang dikerjakan oleh orang yang khusus (mukallaf) disertai dengan niat.

Halaman
123
Editor: bakri
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved