Breaking News:

9 Sampel Makanan tak Memenuhi Syarat, Hasil Pemeriksaan BBPOM di Sabang

Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh, Selasa (27/4/2021), melakukan pemeriksaan jajanan/takjil untuk berbuka puasa

Foto: BBPOM Banda Aceh.
Petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh mengambil sampling jajanan/takjil berbuka puasa di Kota Sabang untuk diperiksa, Selasa (27/4/2021). 

SABANG - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh, Selasa (27/4/2021), melakukan pemeriksaan jajanan/takjil untuk berbuka puasa di Kota Sabang. Dalam pemeriksaan itu ditemukan sejumlah takjil yang dijual oleh para pedagang mengandung boraks dan zat pewarna berbahaya.

Kegiatan itu merupakan bentuk komitmen BBPOM untuk melindungi masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang tidak memenuhi ketentuan, khususnya selama bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran Idul Fitri.

Untuk itulah intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadhan kembali dilakukan, dan kali ini menyasar Kota Sabang. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama dengan Dinas Kesehatan Kota Sabang, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Pemeriksaan sampling takjil dilakukan pada tiga titik di pusat jajanan takjil  Kota Sabang, yaitu di Jalan perdagangan, Kota Atas, dan Simpang Garuda. Lalu dilanjutkan dengan pengujian sampel dengan menggunakan uji rapid test terhadap empat parameter uji bahan berbahaya yang dilarang ditambahkan pada pangan, yaitu Formalin, Boraks, Rodhamin B dan Methanil Yellow.

Dalam operasi itu dilakukan pemeriksaan terhadap 40  sampel dari 24 pedagang. Jenis sampel yang disampling antara lain mi kuning, baso, tahu, kudapan, dan jenis minuman. Dari hasil uji itu diketahui sebanyak sembilan sampel tidak memenuhi syarat karena diduga mengandung bahan bebahaya berupa Boraks dan pewarna yang dilarang, Rhodamin B.

Terhadap sampel yang tidak memenuhi syarat tersebut sleanjutnya dilakukan inspeksi ke sarana produksi dan sampel akan dibawa ke Banda Aceh untuk dilakukan uji konfirmasi di Laboratorium BBPOM di Banda Aceh, baru kemudian ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Terkait hal itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Sabang, Drs Zakaria MM berpesan agar kegiatan pemeriksaan yang dilakukan oleh BBPOM bisa terus berkelanjutan, karena Pemko Sabang memberi perhatian khusus terhadap keamanan pangan. “Permasalahan keamanan pangan ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Sabang,” ujarnya.

Untuk menjamin keamanan pangan, pihaknya juga akan terus melakukan pembinaan kepada para pelaku usaha agar meningkat mutu dan keamanan produk pangan olahannya.

Efek bagi kesehatan

Untuk diketahui, Boraks umumnya digunakan untuk mematri logam, pembuatan gelas, pestisida, serta campuran pembersih. Karena berbagai alasan, Boraks sering ditambahkan ke dalam makanan. Beberapa efek berbahaya yang mungkin terjadi jika mengonsumsi makanan mengandung boraks: demam, muntah, mual, mata merah, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, diare, sesak napas, perdarahan dari hidung.

Jika boraks masuk ke dalam tubuh Anda dalam jumlah besar, maka dalam periode yang singkat dapat menyebabkan beragam masalah kesehatan serius, berupa gangguan lambung, usus, hati, bahkan gagal ginjal akut yang dapat menyebabkan kematian.

Sementara Rhodamin B merupakan pewarna sintetis golongan xanthenes dyes yang digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut, dan sabun. Rhodamin B sering disalahgunakan pada pembuatan kerupuk, terasi, cabe merah giling, agar-agar, aromanis/kembang gula, manisan, sosis, sirup, minuman, dan lain-lain.

Konsumsi rhodamin B dalam jangka panjang dapat terakumulasi di dalam tubuh dan dapat menyebabkan gejala pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, gangguan fisiologis tubuh, atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati.(mun/una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved