Breaking News:

Eks Kadis Syariat Islam Tersangka Korupsi, Terkait Belanja Makanan Santri

Polisi menahan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Program Karantina Hafiz di sel Mapolres setempat

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/RASIDAN
Kapolres Gayo Lues, AKBP Charlie Syahputra Bustamam didampingi Wakapolres dan Kasatreskrim, menyelenggarakan konferensi pers kasus dugaan korupsi makan minum kegiatan karantina hafiz pada Dinas Syariat Islam Gayo Lues. Polisi telah mengamankan tiga tersangka, Rabu (28/4/2012). Headsot Kapolres Galus AKBP Carlie Syahputra Bustamam 

BLANGKEJEREN - Polisi menahan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Program Karantina Hafiz di sel Mapolres setempat, kemarin. Salah satu tersangka berinisial HS selaku kuasa pengguna anggaran yang juga mantan Kadis Syariat Islam Gayo Lues. Proyek ini terkait pengadaan makanan dan minuman untuk santri yang sedang mendapatkan pelatihan.

Dua tersangka lainnya yakni Lukman Hakim (LH) selaku rekanan, sebagai pihak ketiga penyedia Wisma Pondok Indah. Selanjutnya tersangka Sahrul Huda alias Apuk selaku PPTK.

Kapolres Galus, AKBP Carlie Syahputra Bustamam, didampingi Wakapolres Kompol M Wali, dan Kasat Reskrim Iptu Irwansyah, dalam konferensi pers di Aula Mapolres Galus, Rabu (28/4/2021), menyampaikan, ketiga tersangka yang diamankan di sel Mapolres tersebut memiliki peran dan tugas masing-masing. “Kini ketiga tersangka korupsi karantina penghafal Alquran tersebut telah diamankan di sel Mapolres Galus di Blangsere,” kata Kapolres.

Kronologis kejadiannya, ujar Kapolres, pada tahun anggaran 2019, Pemkab Galus melalui Dinas Syariat Islam (DSI) melaksanakan program peningkatan sumber daya santri. Program ini berupa kegiatan pelatihan sumber daya santri dengan pekerjaan belanja makanan dan minuman.

Pagu anggaran untuk belanja makanan dan minuman itu sejumlah Rp 9.069.805.000, dan terealisasi Rp 9.027.949.000, yang bersumber dari dana APBK-DOKA 2019. Dikatakan,  dari total Rp 9.027.949.000 yang dianggarkan, DSI mengelola beberapa kegiatan.

Di antaranya, belanja nasi panitia, narasumber, dan peserta (45+40+1.000) x 90 hari x 3 kali makan (prasmanan) dengan pagu anggaran Rp 5.401.700.000, dilaksanakan di Wisma Pondok Indah Porang.

Belanja snack panitia, narasumber, dan peserta (45+40+1000) x 90 hari x 3 kali, dengan pagu anggaran Rp 2.430.765, juga dilaksanakan di Wisma Pondok Indah Porang. Selanjutnya, belanja teh/kopi panitia, narasumber, dan peserta (45+40+1000) x 90 hari x 3 kali, dengan pagu anggaran Rp 1.080.340.000.

Lalu, belanja aqua gelas dengan pagu anggaran Rp 150.000.000, yang dilaksanakan oleh Ira katering. Kemudian, belanja obat-obatan anggarannya Rp 7.000.000, dilaksanakan oleh Klinik Sehat Musara.

"Tersangka Lukman Hakim selaku penyedia Wisma Pondok Indah dan menjabat sebagai Wakil Direktur memalsukan tanda tangan direktur atas nama Upik,” urainya. "Selain itu, terangka juga tidak melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak serta tidak memenuhi kualifikasi sesuai barang dan jasa yang diadakan dan juga tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," sebut Kapolres.

Kapolres melanjutkan, tersangka Lukman hakim tidak memiliki pengalaman sesuai dengan syarat kualifikasi teknis penyedia sebagaimana diatur dalam peraturan LKPP Nomor 9 Tahun 2018.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved