Breaking News:

Opini

Puasa untuk Menyehatkan Jiwa

Manusia dititipi beberapa fasilitas utama, yakni mata untuk melihat tanda kebesaran-Nya, telinga untuk menyimak ayat-ayat-Nya

Puasa untuk Menyehatkan Jiwa
IST
Dr. Johansyah, MA, Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Oleh Dr. Johansyah, MA, Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Manusia dititipi beberapa fasilitas utama, yakni mata untuk melihat tanda kebesaran-Nya, telinga untuk menyimak ayat-ayat-Nya, dan hati untuk merenungi dan menghayati tanda kebesaran-Nya.

Dari ketiga fasilitas tersebut, hatilah yang menjadi penentunya. Kata `hati' sendiri dalam Alquran disebut dengan beberapa istilah, yaitu `aql, qalb, fu'ad, lubb, sirr, hingga sirr al-ashrar. Namun demikian pada uraian berikut kita fokus pada salah satu hikmah puasa yang pada intinya untuk merawat dan menata hati.

Bila merujuk pada uraian awal surah al-Baqarah, ada tiga ketegori hati. Pertama, hati yang taat (qalbun tha'ah), hati yang sehat adalah hati yang tunduk dan patuh kepada Tuhan. Melaksanakan peritah-Nya, dan berusaha meninggalkan larangan-Nya.

Di awal surah kedua dideskripsikan bahwa orang yang mempunyai hati taat itu adalah muttaqin dengan beberapa kriteria yang melekat pada dirinya; meyakini eksistensi Tuhan dan memiliki visi jauh ke depan, cerdas berkomunikasi secara vertikal dan horizontal, dan memiliki kepedulian tinggi, patuh aturan (agama, negara, dan budaya), dan memiliki rasa tanggung jawab yang kuat.

Kedua, hati yang terkunci (qalbun makhtum) atau hati yang membelot. Ini adalah hati yang keras tidak mau menerima nasihat maupun peringatan. Pada ayat 6-7 surah al-Baqarah dijelaskan bahwa bagi hati yang tertutup itu sama saja, diberi peringatan atau tidak, sama saja mereka tetap tidak yakin. Hati, pendengaran, dan penglihatan mereka kemudian disegel dan ditutup (makhtum), sebagai bentuk hukuman berat (adzabun alim) pada mereka.

Ketiga, hati yang atau sakit (qalbun maridh), atau hati yang mendua (selingkuh). Hal ini dijelaskan pada ayat berikutnya. Kriterianya adalah mudah mengakui diri baik di hadapan orang baik, mengaku bertanggung jawab, hingga menipu Tuhan dan orang baik padahal dia yang ditipu, tapi tidak merasakannya.

Pemilik hati seperti ini juga mudah mengaku bahwa dia adalah sosok yang senantiasa menggemakan perubahan, padahal dia adalah dalam perusak tapi seolah-olah dia tidak melakukannya.

Karakter yang paling buruk dari hati model ini adalah mendua, lain di depan dan lain di belakang. Bertemu orang beriman, dia pura-pura beriman.

Bertemu orang kafir, dia pun kafir. Itulah karakter dia yang sebenarnya. Sikapnya ini senantiasa akan menyulitkannya sendiri sampai kapan pun dan di mana pun mereka berada karena dibutakan dan dibisukan dari kebenaran.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved