Selasa, 14 April 2026

AS Minta Warganya Segera Keluar dari India

Amerika Serikat (AS) meminta warganya untuk keluar dari India sesegera mungkin, karena krisis Covid-19 di negara itu memburuk

Editor: bakri
REUTERS/ADNAN ABIDI
Suasana kremasi masal mereka yang meninggal dunia akibat penyakit virus corona (Covid-19) di sebuah krematorium di New Delhi, India, Senin (26/4/2021). India dihantam kengerian dengan lonjakan kasus Covid-19 mencetak rekor tertinggi dunia melampaui 17 juta kasus. 

NEW DELHI - Amerika Serikat (AS) meminta warganya untuk keluar dari India sesegera mungkin, karena krisis Covid-19 di negara itu memburuk dengan kecepatan yang mencengangkan. Kementerian Luar Negeri AS menerbitkan anjuran perjalanan Level 4, yang tertinggi dari jenisnya. Berisi pemberitahuan bagi warga AS "untuk tidak bepergian ke India atau pergi segera jika aman untuk melakukannya."

“Ada 14 penerbangan harian langsung antara India dan AS dan layanan lain yang terhubung melalui Eropa,” kata Kementerian itu. Otoritas dan rumah sakit India berjuang mengatasi infeksi dan kematian Covid-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya.  Bloomberg melaporkan, data resmi pada Kamis (29/4/2021) menunjukkan kasus baru naik secara mengejutkan selama 24 jam terakhir menjadi 379.257 rekor baru lain.

Sementara tambahan kematian tercatat 3.645 nyawa, membuat total lebih dari 204.800 orang tewas. Dilarang masuk "Warga negara AS melaporkan ditolak masuk ke rumah sakit di beberapa kota, karena kurangnya ruang," tulis situs web Kedutaan Besar dan Konsulat AS di India dalam peringatan kesehatan.

Dalam peringatan yang diterbitkan otoritas AS juga disebutkan bahwa warga negara AS yang ingin meninggalkan India, harus memanfaatkan pilihan transportasi komersial yang tersedia sekarang. Semua layanan rutin warga negara AS dan layanan visa di Konsulat Jenderal AS Chennai telah dibatalkan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, siapa pun yang kembali ke AS dari luar negeri harus menjalani tes virus Covid-19 antara tiga dan lima hari setelah perjalanan. Orang yang belum divaksinasi juga harus tinggal di rumah dan melakukan karantina mandiri selama seminggu. Negara Asia Selatan sekarang memiliki beban kasus dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan 18,4 juta kasus yang terkonfirmasi.

Covid-19 itu telah mencengkeram penduduk India dengan tingkat keparahan yang tidak terlihat pada gelombang pertama. Timbunan kayu pemakaman massal, antrean ambulans di luar rumah sakit penuh sesak. Permohonan oksigen beredar di media sosial, banyak warga yang putus asa. Kondisi ini memperlihatkan betapa tidak siapnya pemerintah federal dan negara bagian India untuk menangani wabah terbaru.

Perusahaan global turun tangan

Tragedi yang sedang berlangsung mendorong beberapa perusahaan terbesar di dunia untuk mengorganisir bantuan. Amazon memanfaatkan rantai pasokan logistik globalnya untuk mengangkut 100 unit ventilator ICU dari AS, dan peralatan tersebut akan sampai ke India dalam dua minggu ke depan. Chief Executive Officer Microsoft Corp Satya Nadella mengatakan dia "sangat sedih" melihat situasi tersebut. Raksasa teknologi itu menggunakan suara, sumber daya, dan teknologinya untuk membantu upaya bantuan dan membantu membeli konsentrator oksigen.

Pimpinan Blackstone Group, Stephen Schwarzman mengatakan firma ekuitas swasta itu berkomitmen memberikan 5 juta dollar AS untuk mendukung bantuan Covid-19 India dan layanan vaksinasi untuk "masyarakat yang terpinggirkan. Reliance Industries Ltd, yang dikendalikan oleh orang terkaya di Asia Mukesh Ambani, berjanji untuk membuat, menugaskan, dan mengelola 100 tempat tidur ICU yang akan beroperasi pertengahan bulan depan. (kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved