Breaking News:

Opini

Membaca Alquran Secara Kualitatif

Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia. Bulan yang penuh keberkahan, bulan di mana setiap perbuatan ibadah

Membaca Alquran Secara Kualitatif
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Yuni Roslaili, MA,  Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh Dr. Yuni Roslaili, MA,  Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia. Bulan yang penuh keberkahan, bulan di mana setiap perbuatan ibadah yang dilakukan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Dan di antara amalan yang istimewa di bulan ini adalah berinteraksi dengan Alquran.

Allah berfirman: "Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil" (Q.S Al-Baqarah (2): 185). Karena itulah bulan Ramadan sering juga disebut dengan istilah bulan Alquran.

Orang-orang terdahulu memiliki perhatian luar biasa kepada bulan Ramadan. Terkhusus untuk aktivitas membaca Alquran, mereka memiliki perhatian yang sangat dalam. Seperti Amirul Mukminin Utsman bin Affan-radhiyallahu `anhu-dikabarkan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya dengan membaca Alquran di dalam shalatnya di setiap rakaat shalat yang beliau kerjakan hingga khatam.

Sahabat Ubai bin Ka'b-radhiyallahu `anhu-, beliau mampu mengkhatamkan Alquran di setiap delapan harinya. Sementara sahabat Tamim Ad-Dari-radhiyallahu `anhu-mampu mengkhatamkannya dalam setiap pekannya. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i-rahmatullah `alaih-, bahkan mampu mengkhatamkan Alquran sebanyak enam puluh kali selain Al-Quran yang beliau baca di waktu shalat.

Sikap demikian tentu diinspirasi oleh hadits yang menceritakan bahwa malaikat Jibril selalu mendatangi Rasulullah-shallallahu `alaihi wa sallam-di setiap malam Ramadan untuk mengajarinya Alquran. Hal ini menunjukkan sunnahnya memperbanyak membaca Alquran di malam hari di bulan Ramadan. Sebab, di malam hari sudah tidak ada lagi kesibukan, semangat menguat, hati dan lisan akan saling bersepakat untuk mentadabburi isi Alquran.

Hal ini berdasarkan firman Allah, "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." (QS Al-Muzammil (73): 6). Membaca Alquran secara berkesan inilah yang penulis maksud sebagai membaca secara kualitatif.

Qiraah, Tartil, Tilawah, Tadarus, dan Tadabbur. Ada beberapa istilah yang sering dikaitkan dengan kegiatan membaca Alquran, di antaranya qiraah, tilawah, tartil. tadarus, dan tadabbur. Secara bahasa arti qiraah selain bacaan adalah al-jam'u yaitu kumpulan. Maksudnya adalah kumpulan huruf, kata dan kalimat. Jika arti al-jam'u ini dikaitkan dengan arti membaca, menjadi kumpulan huruf, kata dan kalimat untuk dibaca.

Namun, kata qiraah mempunyai makna hanya sekadar membaca saja, dan jika dikaitkan dengan kata Alquran mengandung maksud membacanya saja secara berulang-ulang.

Kata tartil biasa kita dengar ketika dibacakan Q.S Al-Muzammil (73):4 yaitu "Warattilil qurana tartiila". Di dalam Alquran terjemahan ayat ini kerap diartikan: Bacalah Alquran secara perlahan-lahan. Namun, agaknya arti ini mengandung makna ambigu, sebab tidak semua yang membaca pelan adalah tartil karena bisa saja ia sedang belajar, sebagaimana tidak semua yang tartil itu harus pelan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved