Breaking News:

Opini

Efek Peltzman; Kasus Covid di Aceh

Pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi hingga saat ini tak ayal telah mengubah segala kebiasaan dan tatanan hidup di masyarakat

Efek Peltzman; Kasus Covid di Aceh
FOTO IST
dr. Tita Menawati, M.Kes, Sp.A Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

dr. Tita Menawati, M.Kes, Sp.A

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi hingga saat ini tak ayal telah mengubah segala kebiasaan dan tatanan hidup di masyarakat. Apalagi saat ini kita tengah memasuki bulan suci Ramadhan 1442 H, bulan penuh ampunan sehingga kita sebagai umat Islam saling berlomba dalam menjalankan ibadah wajib dan sunnah, termasuk halnya adalah ibadah berpuasa dan shalat tarawih tentunya.

Peningkatan kasus Covid-19 di Aceh beberapa hari terakhir ini, seperti yang telah dilansir Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Aceh merupakan alarm yang harus membangunkan kita dari tidur tenang karena zero case Covid beberapa saat yang lalu.

Meskipun Aceh tidak termasuk dalam zona merah, namun tak dapat dipungkiri bahwa daerah kabupaten/kota yang masuk dalam zona oranye di Aceh kian meluas yakni tercatat ada sebanyak 11 kabupaten dan kota. Secara akumulatif, kasus Covid-19 di Aceh per tanggal 27 April ini sudah tercatat 10.814 kasus, yang terdiri dari para penyintas yang sudah sembuh sebanyak 9.367 orang dan kasus meninggal dunia sebanyak 432 orang.

Nah, adapun yang lebih mengejutkan lagi adalah terjadinya lonjakan kasus baru Covid sebanyak 70 kasus dalam sehari. Ini tentu saja merupakan fenomena gunung es, bahwa sesungguhnya ada lebih banyak lagi kasus di luar sana yang belum terdeteksi, namun karena tidak memiliki gejala maka tidak memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan terdekat, sehingga tidak terdeteksi adanya virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS Cov-2) dalam tubuhnya, namun celakanya ia masih sangat dapat menularkan pada orang-orang di sekitar.

Sesungguhnya berita memprihatinkan ini sudah dapat ditebak sebelumnya, karena sejak mulai gencarnya vaksinasi dan mungkin dapat dikatakan kecenderungan masyarakat kita yang menyerahkan segala sesuatunya di tangan Allah Swt terkait sakit, hidup dan mati, sehingga saat Ramadhan ini pun masyarakat kita mulai melonggarkan prokes, seperti melakukan buka puasa bersama dengan karib kerabat sembari reuni yang meskipun sudah dilarang oleh pemerintah namun tetap saja dilanggar, ataupun beribadah di masjid namun tidak menerapkan prokes karena menganggap bahwa niat kita adalah ibadah dan Allah Swt yang akan menjaga kita.

Padahal sejatinya hal tersebut kurang tepat. Mengapa? Karena Allah Swt sendiri berfirman dalam QS. Ar-Ra'd:11 "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri." Di sini jelas bahwa kita selaku manusia wajib untuk berusaha menjaga kesehatan kita dan tidak berlaku dzalim dengan keteledoran kita menulari orang lain, dan setelah itu barulah kita boleh bertawakal kepada Allah SWT terkait sehat dan sakit kita.

Menelaah kebelakang, penulis teringat dengan suatu efek yang memiliki keterkaitan dengan kondisi pandemi saat ini, yaitu efek Peltmanz namanya. Efek Peltzman merupakan suatu teori yang menyatakan bahwa orang akan cenderung terlibat dalam perilaku yang lebih berisiko, ketika ia merasa telah melakukan tindakan pengamanan.

Sejatinya efek Peltzman dinamai berdasarkan postulasi Sam Peltzman tentang kewajiban penggunaan sabuk pengaman di mobil, yang ternyata dapat menyebabkan lebih banyak kecelakaan. Analoginya yaitu ketika orang sudah menggunakan sabuk pengaman, maka ia akan merasa lebih percaya diri bahwa dirinya pasti aman, sehingga melonggarkan kewaspadaan dalam berkendara atau bahkan malah menyetir dengan ugal-ugalan di jalan, sehingga akhirnya terjadilah kecelakaan lalu lintas.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved