Breaking News:

Opini

Wajah Baru LP Kelas IIA Banda Aceh

Masih segar di ingatan kita, saat terjadi kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Lambaro, Aceh Besar, pada Kamis, 29 November 2018 malam

Wajah Baru LP Kelas IIA Banda Aceh
IBNU SYAHRI RAMADHAN

IBNU SYAHRI RAMADHAN, Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh dan Staf Humas Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Banda Aceh

Masih segar di ingatan kita, saat terjadi kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Lambaro, Aceh Besar, pada Kamis, 29 November 2018 malam. Kerusuhan itu menyebabkan 113 warga binaan pemasyarakatan (narapidana/napi) kabur. Ratusan napi berhamburan di areal persawahan, di depan dan di belakangan LP yang berada di Gampong Bineh Blang itu.  Warga sekitar pun turut panik, sebab suara letusan senjata turut mewarnai malam itu.

Video pengejaran napi ini juga sempat viral, sehingga cukup membuat khawatir masyarakat Aceh Besar dan Banda Aceh. Selama ini LP Kelas IIA Banda Aceh di Lambaro memang telah dikenal sebagai LP yang krusial di Indonesia, sejajar dengan krusialnya LP Salemba.

“Lapas ini adalah lapas yang krusial. Di sinilah  tumbangnya para kalapas. Ada yang satu bulan, dua bulan, tiga bulan sudah tumbang,” ucap Kepala LP Kelas IIA Lambaro, Drs Said Mahdar SH saat menyampaikan profil  LP tersebut dalam kunjungan kami, Sabtu (24/4/2021) pagi.

Tapi LP ini saya dengar telah banyak berbenah. Tempat penahanan ini tampil dengan wajah yang lebih humanis dan ramah. Untuk memastikan hal itu, pada akhir pekan lalu  saya pun mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung suasana baru LP ini. Saya bersama teman-teman Forum Aceh Menulis (FAMe) diizinkan Kalapas untuk menyaksikan sejumlah perubahan di LP ini.

Jujur, sempat ada perasaan takut dan cemas dalam diri saya. Pasalnya, inilah kali pertama saya masuk ke dalam LP. Apalagi, LP ini telah dikenal sebagai tempat kurungannya para gembong atau mafia besar, baik itu bandar narkoba, pembunuh, maupun koruptor.

Setibanya di LP, kami disambut hangat oleh Said Mahdar. Protokol kesehatan (prokes) diterapkan dengan baik di LP ini. Setelah berbincang sejenak, kami pun dipersilakan masuk ke dalam LP. Pintu besi berukuran setengah pinggang dibuka petugas. Saya pun harus merunduk untuk masuk ke dalam. Di ruangan ini, saya saksikan petugas sedang memeriksa kotak-kotak rokok yang rokoknya akan dijual di kantin LP. “Itu untuk memastikan gak ada barang lain yang masuk seperti narkoba. Kita harus teliti, karena banyak modus penyelundupan narkoba di LP,” ucap Said.

Telah menjadi rahasia umum bahwa LP adalah sarangnya peredaran narkoba. Banyak pengendali bisnis narkoba justru berstatus napi. Said menjelaskan, modus penyelundupannya cukup beragam. Misalnya, dengan memasukannya ke dalam minuman sachet, dalam rantang makanan. Bahkan baru-baru ini ada pengunjung yang menyelundupkan sabu-sabu di dalam jus alpukat.

Setelah itu kami berjalan ke lorong kecil untuk menuju pintu berikutnya. Keluar dari lorong ini saya saksikan suasana LP yang tak biasa. Sebuah kolam ikan yang bentuknya memanjang menyambut kami saat keluar dari pintu itu. Suara gemercik airnya membuat saya berpikir ulang, apakah benar saat ini saya sedang di LP?

Pasalnya, semuanya tidak hanya tertata dengan rapi, tapi juga penuh warna-warni. Mulai lapangan tenis, dinding LP, sampai meja dan bangku tamannya. Pohon-pohon mangga pun tumbuh rindang di taman yang dinamakan Said Mahdar “Taman 1001 Janji” itu.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved