Breaking News:

Opini

Pesona Ramadhan di Gampong Syariah, Beurawe

USAI shalat Subuh selepas sahur, niat untuk kembali merajut mimpi semakin besar. Pasalnya, akhir-akhir ini mata baru bisa terpejam menjelang sahur

Pesona Ramadhan di Gampong Syariah, Beurawe
FOTO IST
CUT SALMA H.A., Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Beurawe, Banda Aceh

Tak hanya terkenal karena cara uniknya membangunkan sahur. Gampong Beurawe juga terkenal dengan hidangan kanji rumbi saat berbuka puasa. Sebuah panganan sejenis bubur dengan citarasa yang unik. Sekilas, kanji rumbi mirip dengan bubur ayam pada umumnya. Kanji rumbi dimasak dengan bahan utama beras dan rempah-rempah sebagai pelengkap rasa.  Lazimnya, kanji rumbi juga dicampur dengan udang atau potongan daging. Tambahan lain yang cukup penting adalah sayur-sayuran berupa wortel dan kentang yang dipotong dadu dan dimasak bersama rebusan beras, sambil diaduk di dalam belanga besar.

Beberapa hari lalu, sebelum melakukan persiapan untuk lomba MTQ, kelompok kami sempat mengunjungi dan melihat langsung proses pembuatan kanji rumbi di kampung ini. Aroma rempah-rempah menguar saat tiba di teras sebuah rumah di belakang Masjid Al-Furqan Gampong Beurawe. Beberapa pria dewasa tampak begitu piawai mengaduk berbagai bahan kanji rumbi menggunakan tongkat panjang layaknya pendayung perahu.

Sesekali, kami turut mencoba ikut mengaduk menu berbuka puasa paling favorit di gampong itu. Tradisi berbuka puasa dengan kanji rumbi di Gampong Beurawe sudah dilakukan sejak 30 tahun lalu.

"Kanji rumbi Beurawe ini sudah kurang lebih 30 tahun lalu. Hanya pada tahun 2020, karena pandemi, kami tidak membagikan untuk warga, sehingga hanya tersedia satu belanga saja. Namun kali ini, insyaalah kami akan sediakan kembali dua belanga," kata Muhammad Kausar, Sekretaris Desa Beurawe, Rabu (14/4/2021).

Setiap harinya, gampong ini bisa menghabiskan dua belanga besar kanji rumbi untuk warga. Satu belanga dibagikan untuk warga yang datang mengambil dengan wadah masing-masing, satu belanga lainnya disajikan untuk jamaah yang berbuka puasa di masjid.

Budi Dharma, salah satu marbot masjid yang juga bertugas membuat kanji rumbi, biasanya mulai menyiapkan bahan sejak malam. Ia bersama istrinya mulai membersihkan udang dan sayur-sayuran sejak sehabis shalat Tarawih dan dilanjutkan lagi selepas sahur.

"Dari malam jih dek kamoe ka peusiap. Leuh teraweh nyan ka kamo peusieng udeung. Meunyo gule-gule dari leuh sahoe [Dari malamnya Dek sudah kami siapin. Dari selesai Tarawih sudah kami bersihkan udang. Kalau sayur-sayurannya dari setelah sahur]," kata pria yang akrab disapa Bang Agam itu.

Butuh sekitar dua jam untuk membuat beras, sayur-sayuran, udang, beserta rempah-rempah berubah menjadi bubur. Di Beurawe, kanji rumbi dimasak selepas shalat Zuhur dan akan dibagikan menjelang shalat Asar.

Saat hampir memasuki waktu asar, warga setempat mulai berdatangan. Masing-masing membawa wadah. Mulai dari wadah makanan dengan merek paling terkenal, hingga toples, teko, bahkan panci berukuran kecil. Kanji rumbi ini dibagi secara gratis untuk warga. Mereka yang datang terdiri atas orang tua bahkan anak-anak.

Hari itu, kami turut kebagian jatah kanji rumbi untuk dibawa pulang. Sahabat saya, Intan, justru telah lebih dulu membawa wadah dari rumah. Sementara kami yang lain, terpaksa disediakan plastik berukuran setengah kilo oleh Bang Agam.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved