Breaking News:

‘Sekarang Saya Sudah Lega’

Satu dari empat anggota DPRA yang sudah memenuhi panggilan penyidik Tipikor Dit Reskrimsus Polda Aceh terkait dugaan korupsi

TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi 

Satu dari empat anggota DPRA yang sudah memenuhi panggilan penyidik Tipikor Dit Reskrimsus Polda Aceh terkait dugaan korupsi dana bantuan pendidikan (beasiswa) pada tahun 2017 adalah Asrizal  H Asnawi. Seperti diketahui, Asrizal adalah satu dari enam anggota DPRA aktif yang dipanggil polisi terkait kasus tersebut.

Kepada Serambi, Rabu (5/5/2021), Asrizal mengaku sudah memenuhi panggilan polisi pada Selasa (4/5/2021). "Alhamdulillah, Selasa 4 Mei 2021, saya sudah menghadap penyidik di unit Tipikor Polda Aceh. Sesuai surat pemanggilan yang saya terima pada hari Senin, 3 Mei 2021, atau sehari sebelumnya, saya dipanggil sebagai saksi," ujarnya.

Menurut Asrizal, ia datang ke Polda Aceh dan menjalani pemeriksaan mulai pukul 10.00 sampai 13.00 WIB. “Kurang lebih sebelum azan Zuhur berkumandang, prosesnya sudah selesai," kata politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Asrizal menilai, penyidik Polda Aceh sangat profesional melaksanakan tugas sepanjang melakukan pemeriksaan terhadap dirinya. Diungkapkan, ia ditanyai beberapa pertanyaan terkait dua nama penerima beasiswa yang diusulkannya dalam pokok-pokok pikiran (pokir) Anggota DPRA di APBA 2017 senilai Rp 80 juta.

"Sekarang saya sudah lega, keluarga saya juga sudah lega, teman-teman saya pun lega karena prosesnya sudah berjalan. Sebab, isu beasiswa ini sangat menghancurkan reputasi saya dan keluarga," ungkap Asrizal.

Dengan isu yang dulu berkembang, Asrizal mengaku tidak nyaman terutama dengan penerima manfaat bantuan pendidikan yang dia usulkan tersebut. "Seolah-olah beasiswa yang kami usulkan adalah haram dan sebuah kesalahan. Padahal, beasiswa ini adalah bagian dari program Pemerintah Aceh yang juga bisa diusulkan oleh anggota DPRA. Sementara verifikasi syarat dan kelengkapan data  penerimanya, itu urusan pemerintah," jelasnya.

Namun, Asrizal sadar bahwa hal itu merupakan risiko bagi seorang politisi seperti dirinya. "Apapun yang kami lakukan menjadi menarik untuk dibahas oleh media dan masyarakat. Ibarat kita mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya, kalau nggak nabrak, ya ditabrak. Saya terima konsekwensi ini karena saya senang, dua orang yang saya berikan beasiswa melalui pokir, keduanya lulus. Satu orang sebagai master kesehatan (S2) dan satu orang lagi sudah bergelar doktor (S3)," timpal Asrizal.

Ia pun berkeinginan untuk melanjutkan program atau usulannya dalam kerja-kerja di DPRA saat ini. "Ada keinginan saya untuk melanjutkan usulan pokir melalui program beasiswa di APBA, tapi trauma atas isu macam-macam yang beredar di masyarakat membuat saya ragu. Yang baik saja yang kita lakukan, belum tentu baik ditanggapi orang lain," pungkasnya. (dan)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved