Breaking News:

Tiga Penjemput Rohingya Dituntut 18 Tahun

Tiga pria yang menjemput seratusan warga etnis Rohingya di tengah laut pada tahun 2020, dituntut 18 tahun penjara

Serambi Indonesia
Sebanyak 51 Rohingya yang selama ini masih menempati Balai Latihan Kerja (BLK) Desa Meunasah Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Kamis (29/4/2021) malam sekitar pukul 22.00 WIB, diboyong ke Medan, Sumatera Utara. 

LHOKSUKON – Tiga pria yang menjemput seratusan warga etnis Rohingya di tengah laut pada tahun 2020, dituntut 18 tahun penjara (masing-masing enam tahun) oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Aceh Utara. Dalam sidang yang digelar secara virtual, Selasa (4/5/2021), mereka didakwa melanggar undang-undang keimigrasian karena menyelundupkan manusia.

Masing-masing terdakwa dalam kasus tersebut Afrizal (26) warga Desa Ulee Rubek Barat, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Kemudian, Abdul Aziz (31) warga Desa Gampong Aceh, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Terakhir Faisal Afrizal (43) Desa Matang Bayu, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Selain ketiganya, satu pria lagi yang menjadi terdakwa dalam kasus tersebut, Shahad Deen asal Medan, Sumatera Utara. Terdakwa dalam kasus tersebut termasuk satu dari tiga pria yang menyuruh kepada terdakwa lainnya untuk menjemput Rohingya. Karena itulah, JPU menuntut terdakwa Shahad Deen lebih tinggi yaitu tujuh tahun penjara.

Sedangkan dua pria lainnya dalam kasus tersebut, Adi Jawa dan Anwar sampai sekarang belum berhasil ditangkap petugas. Kini, keduanya sudah ditetapkan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Sidang tersebut dipimpin Fauzi SH didampingi dua hakim anggota, yang dihadiri JPU dan pengacara terdakwa, Muhammad Khairul Nawawi SH.

Materi tuntutan yang dibacakan JPU antara lain berisi kronologis tentang kejadian penjemputan. Di mana penjemputan itu berawal saat Adi Jawa, Anwar (keduanya masih dalam DPO Polda Aceh), dan Shahad Deen menyuruh Faisal Afrizal bersama terdakwa lainnya untuk menjemput Rohingya di tengah laut.

Setelah menempuh perjalanan 19 jam dari Kuala Jambo Aye, terdakwa menemukan satu kapal yang di dalamnya berisi ratusan imigran Rohingya. Setelah diberi kode dengan menghidupkan lampu, kemudian kapal tersebut yang menampung Rohingya juga membalasnya. Lalu,  para terdakwa memindahkan terutama anak-anak Rohingya ke kapal mereka.

Namun, ketika pulang, kapal yang digunakan terdakwa mengalami kerusakan. Setelah ditolong nelayan lain, kemudian berita ini tersebar dan kemudian Muspida Aceh Utara menjemputnya. Akhirnya seratusan imigran Rohingya diturunkan di Perairan Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu. Tapi, kemudian kasus tersebut ditangani penyidik Polda Aceh.

Dalam kasus itu, jaksa menuntut masing-masing terdakwa enam tahun penjara dan denda masing-masing, Rp 500 juta, karena terdakwa melanggar Pasal 120 ayat (1) Undang-undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian. Sidang tersebut akan dilanjutkan kembali pada 18 Mei 2021 dengan agenda penyampaian pembelaan.

Niat untuk Menolong

Istri terdakwa Faisal Afrizal, Nurul Hidah kepada Serambi, tadi malam menyebutkan, rencana awal suaminya hanya hendak menjemput 35 orang warga Rohingya sebagaimana permintaan dari Adi Jawa dan Anwar. Namun, karena melihat banyak anak-anak dalam kapal, sehingga suaminya bersama dua temannya memindahkan  seratusan Rohingya ke kapalnya.

Tujuan Afrizal memindahkan lebih banyak Rohingya dari yang diminta Anwar dan Adi Jawam karena tak tega melihat sangat banyak anak-anak di tengah laut. “Suami saya tidak bersalah, dan niatnya hanya ingin membantu saja. Karena itu, mohon suami saya dibebaskan. Enam anak-anaknya selalu bertanya ke mana ayahnya pergi,” kata Nurul Hidah.(jaf)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved