Breaking News:

Opini

Mewujudkan Ketahanan Keluarga Melalui Alquran

Salah satu keistimewaan bulan suci Ramadhan adalah diturunkannya Alquran menjadi pedoman hidup manusia

Mewujudkan Ketahanan Keluarga Melalui Alquran
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., MA Ketua Prodi Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT-Aceh

Oleh Dr. H.Agustin Hanafi, Lc.

Ketua Prodi s2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry dan Anggota IKAT Aceh

Salah satu keistimewaan bulan suci Ramadhan adalah diturunkannya Alquran menjadi pedoman hidup manusia. Alquran juga penawar dan penyejuk jiwa bagi orang-orang beriman, sebagaimana Q.S. al-Isra`: 82, menyebutkan "dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".

Alquran kitab suci yang sungguh menakjubkan, bahasanya mengagumkan dan sangat menyentuh bagi siapapun yang membaca dan mendengarnya, baik yang mengerti bahasa Arab maupun tidak. Meski Alquran telah berusia ribuan tahun, namun penerapan ajarannya tetap relevan hingga saat ini. Sebagai Muslim, kita meyakini betul bahwa Alquran merupakan kitab suci dan mukjizat terbesar yang Allah turunkan bagi manusia yang harus dipedomani sepanjang hayat.

Maka menadaburinya merupakan sebuah keharusan. Di bulan Ramadhan ini kita manfaatkan waktu yang ada untuk merenungi isi Alquran bersama keluarga. Suami-istri dan anak, meluangkan waktu duduk bersama melakukan tadarrus, menelaah dan menadaburi ayat-ayat tentang keluarga. Betapa dalam dan detailnya Alquran berbicara tentang keluarga, baik mengenai ikatan pernikahan, kedudukan suami-istri, tanggung jawab orang tua terhadap anak, kewajiban anak terhadap orang tua, dan sebagainya.

Akhir-akhir ini banyak persoalan keluarga yang membuat hati kita miris, bersebab jauh dari pesan-pesan Alquran. Orang tua tega menelantarkan, menyakiti, menganiaya anak, bahkan tega menjadi predator seksual bagi anak perempuannya, suami-istri kurang menghargai ikatan perkawinan, saling mendiskreditkan, melecehkan, menyakiti, melukai, dan mudah mengkhianati pasangannya, sehingga mudah terjadi cekcok yang berakhir dengan perceraian, dan anaklah korbannya.

Alquran tidak menyukai perceraian terjadi dengan tergesa. Hal itu hanya boleh dilakukan pada kondisi darurat, dan jalan terakhir dari kemelut rumah tangga bagi pasangan suami-isteri, di mana akan menjadi mudarat bila tidak dilakukan. Sejatinya praktek di atas tak ubahnya masa Jahiliyah yang telah dikikis habis oleh Alquran.

Alquran surat an-Nisa`: 21 mengingatkan bahwa substansi dari sebuah pernikahan adalah ikatan suci nan kokoh serta sakral, untuk beribadah kepada Allah. Bukan untuk mengubah status, ataupun mencari kenikmatan dan kelezatan fisik sesaat yang setelah itu boleh diakhiri dan dibubarkan begitu saja.

Alquran juga menggambarkan hubungan suami-istri bagaikan pakaian yang saling melengkapi, "Mereka (istri-istri kamu) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu (wahai para suami) adalah pakaian buat mereka" Q.S. al-Baqarah: 187. Ayat ini mengisyaratkan bahwa suami-istri saling membutuhkan dan melengkapi, karena masing-masing memiliki kekurangan.

Suami memberikan perlindungan layaknya sebuah pakaian, berusaha bekerja keras menyejahterakan istri serta memuliakannya. Saban hari yang terlihat olehnya hanya kelebihan istri, sehingga selalu berkorban untuknya demi menggapai samara. Istri juga berjuang dan bekerja keras untuk menciptakan ketenangan dan kenyamanan batin bagi suami, selalu mendoakan keselamatan dan kesehatan suami, tidak mencari kelemahan dan kekuarangannya, yang ada hanya cinta sejati, saling mengevaluasi, mengintrospkesi diri dan bertumbuh menua bersama.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved