Breaking News:

Opini

Mewujudkan Ketahanan Keluarga Melalui Alquran

Salah satu keistimewaan bulan suci Ramadhan adalah diturunkannya Alquran menjadi pedoman hidup manusia

Editor: hasyim
Mewujudkan Ketahanan Keluarga Melalui Alquran
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., MA Ketua Prodi Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT-Aceh

Alquran juga menegaskan, bahwa kedudukan suami-istri seimbang dan sederajat, tidak ada yang merasa superior dan inferior. Artinya keduanya sama-sama memiliki perasaan yang mereka upayakan untuk diperhatikan dan tidak dilukai, ingin memperoleh penghormatan yang wajar, bahkan senang untuk mendapat penghargaan dan pujian dan enggan diperlakukan sebagai barang atau binatang. Untuk itu diharapkan hubungan suami-istri menggembirakan, mencerahkan dan membahagiakan, saling setia, kasih sayang, pengertian, musyawarah, dan keterbukaan satu sama lain.

Kebahagiaan "surga rumah tangga" itu harus diupayakan dan diusahakan secara sungguh-sungguh dan terus menerus oleh suami dan istri dengan dukungan dan bimbingan keluarga masing-masing, bahkan kepada penjagaan dan pengawasan masyarakat. Suami disebut Alquran sebagai qawwam yaitu penuntun, pelindung, dan pengayom bagi istri berdasarkan tanggung jawab yang dimilikinya (Q.S. al-Nisa': 34).

Di sisi lain, seorang suami harus menjadi teladan bagi istrinya, berbuat baik dan perhatian kepadanya. Mendengar keluh kesah dan memberikan solusi menyangkut problem yang ia hadapi. Meminta pendapat serta menghargainya, berkata lembut dan jujur, tidak merendahkan apalagi melecehkan sebagaimana ungkapan Alquran, an-Nisa':19, Gaulilah mereka (pasanganmu itu) dengan cara yang patut dan layak. Andainya kamu membenci dia, maka boleh jadi kebencianmu itu hanyalah karena satu hal yang tidak kamu senangi, yang ada padanya. Sedang sebetulnya, dibalik (sedikit, satu) keburukan yang kamu lihat itu banyak kebaikan lain yang sudah diciptakan Allah (tetapi tidak kamu ketahui atau rasakan).

Alquran meminta agar kaum muslimin secara sungguh-sungguh memperhatikan pasangan hidupnya. Terhadap pasangan, jangan semaunya memaksakan kehendak juga keinginan, serta tergesa-gesa memvonis buruk. Renungkan dan timbang masak-masak dari hati nurani, jangan terburu-buru, terlebih penuh amarah dan emosional dalam membuat keputusan, karena perkawinan adalah perintah dari Allah yang harus dirawat dan dilestarikan dengan cara dan perilaku yang Allah ajarkan dan ridhai.

Perlakukan pasangan hidup dengan sikap tulus, penuh rasa hormat dan penghargaan, mudah memaafkan, tidak meributkan masalah yang kecil menjadi besar. Nyalakan setiap indikator kehangatan yang kita ketahui. Bersikaplah lebih lembut, pemurah, dan lebih sering memberikan pujian. Jangan terlalu kritis, keras kepala, dan suka menghakimi. Jangan mudah marah atau kesal, latihlah diri agar memiliki sikap sabar dan pemaaf.

Kemudian, mulai lebih banyak melakukan kontak mata dan mengasah keterampilan mendengarkan dengan baik, bersikap penuh kasih, tidak menang sendiri, dan lebih mendahulukan kepentingan pasangan. Dalam rumah tangga penghargaan yang tinggi terhadap pasangan akan membuat suasana lebih hangat dan mengeratkan dua hati yang berbeda untuk tujuan yang sama. Jangan menyepelekan dan menganggap kehadiran pasangan hanya sebagai pelengkap dalam hidup kita.

Suami sadar dan paham akan kekurangan istrinya, jangan mengolok atau melecehkannya, tetapi menyesuaikan dan beradaptasi sehingga kekurangan itu berubah menjadi sebuah kesempurnaan. Pandangan "punya orang lain lebih bagus" penting untuk diketahui, bahwa memikirkan kemungkinan itu saja akan membuat kita tidak bisa menikmati apa yang sudah kita miliki, dan membuat kita tidak bisa mengembangkan hubungan dengan baik. Seringkali fantasi jauh lebih indah dari kenyataan.

Surah an-Nisa: 35, bahwa dalam mengarungi rumah tangga tidak akan luput dari masalah, tetapi bagaimana kedewasaan kita dalam menghadapi masalah menjadi kunci sukses, yaitu akal sehat dan fikiran jernih, bukan mendahulukan sikap egois dan penuh emosional. Kemudian Alquran juga menyebutkan bahwa anak adalah perhiasan hidup yang harus dididik dan dibina, tanamkanlah nilai-nilai tauhid, urgensi ibadah dan akhlak agar berguna bagi dirinya, agama, dan bangsa.

Mari kita jadikan Ramadhan ini momentum, saat yang tepat untuk mengkaji isi kandngan Alquran, merenungi ayat-ayat tentang keluarga, sebab keluargalah tempat bermulanya kasih sayang atau kelukaan, semua itu adalah pilihan. Rumah tangga yang berlandaskan ruh ilahiyah akan membawa penghuninya kepada keridhaan Allah swt dan kebahagiaan.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved