Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Untuk Apa Menjadi Ahlut Takwa?

Ibadah puasa di bulan Ramadhan menjadi sebuah ibadah yang sangat istimewa karena Allah SWT secara spesifik menyebutkan

Untuk Apa Menjadi Ahlut Takwa?
FOTO IST
Dr. Hafas Furqani, M.Ec

Oleh Dr. Hafas Furqani, M.Ec

Ibadah puasa di bulan Ramadhan menjadi sebuah ibadah yang sangat istimewa karena Allah SWT secara spesifik menyebutkan target dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam Surah al-Baqarah ayat 183, di penghujung ayat yang mewajibkan puasa disebutkan tujuan agar orang mukmin yang menjalankan ibadah tersebut menjadi hamba yang bertakwa.

Perkataan la'allakum tattaqun diterjemahkan menjadi "semoga" (`asaa), "supaya" atau "agar" (kay) yang bermakna diharapkan dengan menjalankan ibadah puasa, manusia dapat menjadi hamba yang bertaqwa.

Akan tetapi, karena ini disebutkan langsung oleh Allah SWT kepada orang beriman, derajat maknawi harapan tersebut meningkat menjadi sesuatu yang sifatnya pasti (tahqiq). Artinya, ibadah puasa yang dilaksanakan oleh seorang mukmin adalah resep yang diberikan oleh Allah SWT yang secara pasti jika dilaksanakan dengan penuh kesadaran akan menjadikan seorang mukmin menjadi muttaqin.

Inilah yang senantiasa diulang-ulang oleh penceramah di bulan Ramadhan agar orientasi kita tidak terpaling dari tujuan takwa tersebut. Akan tetapi, mengapa manusia diharapkan menjadi orang bertakwa? Untuk apa kita menjadi muttaqin atau ahlut takwa?

Alquran menjelaskan beberapa alasan. Pertama, mukmin yang bertakwa adalah hamba Allah yang paling mulia (al-Hujurat: 13). Berbeda dengan berbagai status di dunia, seperti miskin dan kaya atau pejabat dan rakyat jelata, status takwa dapat diperoleh oleh siapa saja. Derajat takwa diperoleh melalui iman dan amal shaleh, melaksanakan segala yang diperintahkan dan meninggal segala yang dilarang. Hanya hamba yang beriman dan patuh mampu melaksanakan itu, sehingga mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.

Kedua, ahlut takwa adalah hamba Allah SWT yang sangat dekat dengan khaliqnya (al-Baqarah: 194), sehingga tidak ada masalah yang dihadapi di dunia menjadi sesuatu yang besar dan memalingkannya dari tunduk dan patuh kepada Tuhan. Justru, Allah SWT memberikan berbagai solusi dan jalan keluar terhadap segala permasalahan yang dihadapi. Bahkan, Allah juga memberikan rezeki dari jalan yang tidak pernah diduga (al-Talaq: 2-3).

Karena itu, kehidupan seorang muttaqin juga dipenuhi ketenangan, tidak ada kekhawatiran atau kesedihan. Derajat takwa menjadikan seseorang dekat dengan Tuhannya, tempat bersandar dari segala kesusahan dan kesempitan, sehingga hidupnya menjadi tenang dan tidak ada kesedihan.

Ketiga, dunia dan segala isinya hanya layak bagi orang yang bertakwa. Allah SWT memberikan keistimewaan kepada hamba-Nya yang bertakwa: "Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa" (al-A'raf: 128).

Dalam Surah al-Nur ayat 55 juga disampaikan bahwa Allah menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. Takwa bukan sifat individu saja, tetapi juga diinginkan untuk menjadi karakter sebuah masyarakat. Dalam Alquran disebutkan bahwa "Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan" (al-A'raf: 96).

Terakhir, balasan bagi hamba Allah yang bertakwa adalah di akhirat mendapat syurga jannatun na'im (al-Ra'du: 35). Inilah puncak balasan bagi orang yang bertakwa. Takwa adalah status tertinggi yang harus dicapai oleh seorang hamba.

Berbagai fasilitas dan balasan di atas yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya menjadi alasan mengapa kita harus menjadi orang yang bertakwa. Seperti dalam kehidupan dunia, manusia berlomba-lomba mengejar status, pengaruh atau jabatan tinggi, karena ingin mendapatkan penghasilan atau berbagai fasilitas kehidupan lainnya. Manusia sebagai mukmin juga tidak boleh melupakan tujuan untuk mengejar status takwa. Justru, inilah sebaik-baik status atau derajat yang perlu dicapai.

Status inilah yang abadi dan mengantarkan manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Persiapan menuju takwa dilakukan dalam kehidupan. Persiapan bekal takwa, adalah bekal yang terbaik yang perlu disiapkan hamba. Puasa di bulan Ramadhan menjadi sarana terbaik untuk mempersiapkan bekal takwa sebanyak-banyaknya.

* Penulis adalah Wakil Dekan I FEBI UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: hafas.furqani@ar-raniry.ac.id

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved