Breaking News:

Opini

Bijak Konsumsi, Mewujudkan Green Ramadhan

Bulan suci Ramadhan di Indonesia, khususnya di Aceh sangat identik dengan momen silaturahmi, berbuka puasa bersama teman

Editor: hasyim
Bijak Konsumsi, Mewujudkan Green Ramadhan
FOTO IST
Nanda Savira Ersa, S.T., M.T. Dosen Unimal, Lhokseumawe dan Pemerhati Lingkungan dan Alumni Teknik Lingkungan, ITB

Oleh Nanda Savira Ersa, S.T., M.T.

Dosen Unimal, Lhokseumawe dan Pemerhati Lingkungan dan Alumni Teknik Lingkungan, ITB

Bulan suci Ramadhan di Indonesia, khususnya di Aceh sangat identik dengan momen silaturahmi, berbuka puasa bersama teman, keluarga, bahkan menyedekahkan makanan ke mesjid. Sayangnya, hal ini cenderung mendorong orang untuk memasak dan mengonsumsi makanan berlebihan.

Menurut Pusat Makanan dan Nutrisi Barilla, Indonesia merupakan negara penghasil sampah makanan terbesar ke-2 di dunia dengan jumlah mencapai 300 kg/tahun. Ironisnya, Global Nutrition Report menyebutkan Indonesia merupakan negara prevalensi kejadian stunting dan wasting yang cukup besar dengan nilai masing-masing 30,8% dan 10,2%. Nilai ini berada di atas rata-rata dari negara-negara Asia lainnya.

Pemerintah pusat pada dasarnya telah memberikan banyak perhatian terhadap permasalahan sampah secara umum. Secara konstitusional, pengelolaan sampah sudah diatur dalam UU No 32 Tahun 2008. Berbagai turunannya kemudian dicantumkan dalam Kepmen LHK, PP, Perpres hingga Perda.

Tidak ketinggalan, dengan berlandaskan pada tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi (khalifah fi al-ardl) untuk bertanggung jawab memakmurkan bumi, bahkan MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan yang disahkan pada tahun 2014.

Indonesia saat ini sudah berada pada tahap kritis, dimana laju pengolahan kalah jauh dibandingkan laju penambahan sampah. Tahun 2016, KLHK menyebutkan timbulan sampah nasional sebesar 64 juta ton per tahun. Dari keseluruhan sampah yang dihasilkan, 57% adalah sampah organik, 16% plastik, 10% kertas, serta 17% lainnya (logam, kain teksil, karet kulit, kaca). Dari 57% sampah organik yang dihasilkan di daerah perkotaan, hanya 16,2% yang mampu diolah dengan cara pengomposan.

Di Provinsi Aceh sendiri, Kota Banda Aceh yang telah berhasil memenangkan piala Adipura tingkat provinsi tahun 2019 lalu, ternyata memiliki timbulan sampah mencapai 84 ribu ton per tahun atau dengan kata lain ada 233 ton sampah per hari yang harus dikelola.

Kota Banda Aceh sampai saat ini masih terus berbenah dalam upaya penanganan sampah, lantas bagaimana dengan kabupaten/kota Aceh lainnya yang belum mendapatkan penghargaan adipura, tentu juga masih menghadapi permasalahan sampah yang cukup besar.

Menurut Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), pemerintah memang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan sampah, akan tetapi masyarakat juga memiliki peran yang juga cukup besar dalam permasalahan produksi sampah.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved