Breaking News:

Bisnis Batu Bara

Indonesia Gandeng Perusahaan Migas AS untuk Kembangkan Gasifikasi Batu Bara

Kerja sama gasifikasi ini, diyakini bisa menghemat cadangan devisa hingga Rp 9,7 triliun per tahun dan menyerap 10.000 tenaga kerja.

Editor: Taufik Hidayat
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat, ada sekitar 7.300 ton yang diangkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Perusahaan pelat merah Indonesia, Pertamina dan PT Bukit Asam (PTBA) menandatangani amandemen kerja sama proyek gasifikasi batu bara ( DME Coal ) dengan perusahaan migas AS, Air Products, di Amerika Serikat, Selasa.

“Gasifikasi batu bara memiliki nilai tambah langsung pada perekonomian nasional secara makro,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir, dalam siaran pers, Selasa (11/5/2021).

Perjanjian ini sekaligus menjadi kesepakatan Processing Service Agreement atas proyek gasifikasi batu bara yang menjadi salah satu program pemerintah meningkatkan ketahanan energi nasional.

Menteri Erick bertolak ke Amerika Serikat untuk menjajaki berbagai kerja sama dengan sektor usaha di negara itu.

Gasifikasi batu bara, menurut dia, akan meningkatkan perekonomian nasional, menghemat neraca perdagangan, mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, dan menghemat cadangan devisa.

Erick optimistis kerja sama ini akan memberikan manfaat besar di tengah usaha membangkitkan perekonomian nasional.

Baca juga: Video Kreator TikTok Asal Aceh Ini Bikin Netizen Tertawa karena Lapor Kecelakaan dengan Bahasa Kocak

Baca juga: Kasus Baru Covid-19 di Indonesia Capai 5.021, Total Kasus 1.723.596

Baca juga: Pemko Minta PKL yang Berdagang di Ruas Jalan Ini Menghentikan Aktivitasnya Sampai Pukul 12 Malam

DME akan mengurangi impor LPG karena bisa dijadikan sebagai substitusi bahan bakar tersebut, kata dia.

Padahal, tambah Erick, impor LPG dalam lima tahun terakhir terus meningkat, bahkan pada 2019 impor LPG mencapai 5,7 juta ton atau senilai USD2,5 miliar.

Kerja sama gasifikasi ini, menurut dia, bisa menghemat cadangan devisa hingga Rp9,7 triliun per tahun dan menyerap 10.000 tenaga kerja.

Kesehatan dan Investasi

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved