Breaking News:

Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Gelar Webinar Ikut Bangun Indonesia Setara Lewat Bahasa Isyarat

Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) mengadakan kegiatan Webinar yang bertajuk ‘Ikut Bangun Indonesia Setara Lewat Bahasa Isyarat’.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Safriadi Syahbuddin
FOR SERAMBINEWS.COM
Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) mengadakan kegiatan Webinar yang bertajuk ‘Ikut Bangun Indonesia Setara Lewat Bahasa Isyarat’. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) mengadakan kegiatan Webinar yang bertajuk ‘Ikut Bangun Indonesia Setara Lewat Bahasa Isyarat’.

Kegiatan ini terbuka untuk umum dengan tujuan untuk memberikan edukasi serta pengetahuan kepada peserta mengenai pentingnya mem pelajari Bahasa Isyarat Indonesia.

“Bahasa isyarat sangatlah penting untuk menjembatani teman-teman tuli dengan masyarakat, oleh karena itu penting adanya edukasi mengenai bahasa-isyarat' title=' bahasa isyarat'> bahasa isyarat” kata Bayu Adhi Dharmawan, ketua pelaksana kegiatan ini dalam pembukaan acara webinar, Sabtu (24/4/2021).

Webinar yang diadakan oleh Direktorat pergerakan dan pemberdayaan masyarakat diadakan pada pukul 15.30 WIB secara daring (online).

Menjalani ibadah puasa tidak menghambat antusias 105 orang peserta dalam mengikuti webinar ini.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan saat ini juga dialami oleh teman tuli pula, hal ini dialami oleh Tri Erwinsyah Putra, pendiri Kopi Tuli.

Baca juga: KNPI Gandapura Gelar Ramadhan In Love III, Ini Kegiatannya

Baca juga: Wabup Dailami Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Seulawah

Ia merasa tingkat kesulitan dalam menemukan pekerjaan sangatlah tinggi dibandingkan teman normal lainnya.

Oleh karena itu, mendirikan usaha Kopi Tuli merupakan salah satu solusi yang dia dan tim lainnya lakukan.

“Teman tuli harus mampu meningkatkan kemandirian serta keterampilan guna menciptakan Indonesia yang setara tanpa ada batasan” ungkap Tri dalam acara webinar ini.

Berdasarkan penelitian, sebanyak 5,2 juta penduduk atau setara 12,5 persen dari jumlah anak-anak dan remaja menderita tuli permanen akibat bising.

Selain itu, 17 persen atau 26 juta penduduk usia 20-69 tahun juga mengalami hal yang sama.

Hal itu diungkapkan dr Tri Hedianto, Sp. THT-KL selaku dokter spesialis telinga hidung dan tenggorok, bedah kepala leher.

Meningkatnya jumlah penderita tuli setiap tahunnya disebabkan oleh tingkat kebisingan yang melebihi batas normal manusia, yakni 85 db.

Baca juga: FDK UIN Ar-Raniry Gelar Webinar Internasional Pendampingan Mualaf

Baca juga: Webinar Covid Musara Gayo, Vaksinasi Covid-19 di Aceh Tengah Sudah Capai 85,3 Persen

Oleh sebab itu, penting setiap masyarakat untuk mengurangi paparan bising dalam waktu lama dengan tidak melebihi waktu 60 menit.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved