Breaking News:

Konflik Palestina

Cara Kubah Besi Israel Hancurkan Roket Hamas di Udara, Ini Kelebihan dan Kelemahannya, serta Sejarah

Teknologi yang digunakan Kubah Besi itu bisa memilah tembakan musuh yang kemungkinan akan mencapai target dan harus dihancurkan, maupun yang meleset.

Editor: Ansari Hasyim
AFP/ANAS BABA
Sistem pertahanan udara Kubah Besi (Iron Dome) Israel bekerja keras menahan gelombang serangan roket kelompok Hamas dari Jalur Gaza, Selasa 911/5/2021) hingga Rabu (12/5/2021). 

SERAMBINEWS.COM - Kalangan pejabat Israel menyatakan sistem pertahanan Kubah Besi punya tingkat kesuksesan sekitar 90% dalam menghancurkan roket-roket musuh di udara, sebelum menjangkau wilayah-wilayah permukiman penduduk Israel yang jadi sasaran tembak.

Kubah Besi merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal Israel yang berbiaya miliaran dolar.

Dikutip Serambinews.com dari laman BBC Indonesia sistem ini menggunakan radar untuk melacak roket yang ditembakkan musuh, lalu meluncurkan rudal pencegat untuk menghancurkan roket musuh tersebut di udara.

Teknologi yang digunakan Kubah Besi itu bisa memilah tembakan musuh yang kemungkinan akan mencapai target dan harus dihancurkan, maupun yang meleset.

Cara Kubah Besi Israel bekerja merontokkan rudal Hamas.
Cara Kubah Besi Israel bekerja merontokkan rudal Hamas. (SERAMBINEWS/BBC)

Jadi hanya roket yang mengarah ke kota atau kawasan padat penduduk yang diprioritaskan untuk dicegat, sehingga rudal pencegat bisa digunakan secara efisien.

Setiap rudal pencegat dari Kubah Besi itu berbiaya US$150.000 (sekitar Rp2,1 miliar) ungkap harian Times of Israel.

Sistem pertahanan anti-rudal buatan Israel, Iron Dome atau Kubah Besi.
Sistem pertahanan anti-rudal buatan Israel, Iron Dome atau Kubah Besi. ((AFP / JACK GUEZ))

Pembuatan Kubah Besi ini berawal dari konflik tahun 2006 antara Israel versus Hizbullah, kelompok yang berbasis di selatan Lebanon.

Hizbullah saat itu menembakkan ribuan roket, menyebabkan banyak kerusakan dan menewaskan puluhan warga Israel.

Setahun kemudian, Israel mengumumkan perusahaan pertahanan milik negara, Rafael Advanced Defense Systems, untuk membuat perisai pertahanan rudal yang baru.

Proyek itu mendapat pendanaan lebih dari US$200 juta (sekitar Rp2,8 triliun) dari AS.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved