Breaking News:

Konflik di Papua

Penyelesaian Konflik Papua Makin Rumit, Potensi Pelanggaran HAM Makin Tinggi

Saat TPNPB-OPM ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah, Amnesty Internasional langsung bereaksi keras dengan mengecam pelabelan tersebut

Editor: Taufik Hidayat
Foto Jerry Omona/Metromerauke
Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) 

Argumentasi Asrul Sani ditanggapi sebaliknya oleh peneliti senior dari LIPI, Cahyo Pamungkas, yang mengatakan bahwa kalau alasannya pelabelan itu karena tindak kekerasan yang kelompok separatis selama ini, faktanya aparat Polri dan TNI juga melakukan hal serupa di Papua.

Argumen pro dan kontra, yang muncul menyusul keputusan pemerintah melabeli TPNPB-OPM sebagai teroris tersebut, menunjukkan bahwa persoalan Papua itu sangat multidimensi, tidak tunggal.

Baca juga: Amerika dalam Posisi Sulit Bersikap, Banyak Pihak Minta Washington Kutuk Israel Secara Terbuka

Baca juga: Nasib Jasad Warga Korea Utara yang Meninggal dalam Tahanan, Tubuhnya Dijadikan Pupuk Alami

Baca juga: Bupati Tangkap Basah Camat Purwoasri yang Minta THR ke Desa, Temukan Rp 15 Juta, Begini Kronologis

Tak menyelesaikan masalah

Oleh karena itu, Komnas HAM menganggap pelabelan teroris tersebut tidak akan menyelesaikan konflik di Papua, malah semakin mengeskalasi kekerasan.

“Ini akan semakin menjauhkan agenda jalan damai di Papua,” ujar Komisioner Komnas HAM Chairul Anam.

Dia mengkhawatirkan eskalasi kekerasan di Papua justru akan semakin meningkat setelah penetapan label tersebut.

Papua – yang luasnya 3,5 kali dari pulau Jawa – mempunyai kisah panjang pergolakan sosial, budaya, politik dan ekonomi di Indonesia, ujar Chairul.

Menurut data sensus 2020, total penduduk Papua sekitar 4,3 juta jiwa, atau kurang dari 2 persen keseluruhan penduduk Indonesia yang 270 juta orang.

Penelitian di bidang Antropologi mengategorikan tujuh zona kebudayaan di seluruh tanah Papua: Saireri, Doberai, Bomberai, Ha-Anim, Tabi, Lano-Pago, dan Me-Pago.

Ada lebih dari 250 kelompok etnis Papua dengan kebiasaan-kebiasaan, bahasa-bahasa, praktik-praktik dan agama asli yang berbeda ditambah 100 kelompok etnis non-Papua.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved