Breaking News:

Opini

Memaknai Hari Kemenangan

Suasana suka cita senantiasa dirasakan oleh umat Isam di seluruh dunia ketika merayakan Idul Fitri di setiap satu syawal

Memaknai Hari Kemenangan
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Johansyah, MA, Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Oleh Dr. Johansyah, MA, Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Suasana suka cita senantiasa dirasakan oleh umat Isam di seluruh dunia ketika merayakan Idul Fitri di setiap satu syawal. Seperti biasa hari raya ini sering diidentikkan dengan hari kemenangan. Idealnya memang orang yang berpuasa telah mengalami transisi ruhaniyah, bermetamorfosis layaknya ulat menjadi kupu-kupu.

Hal ini diperoleh seseorang manakala menjalani puasa Ramadhan dengan misi utama menjinakkan hawa nafsu dan berusaha membuatnya tunduk kepada Allah SWT. Ketika seseorang mampu melakukannya secara maksimal, inilah yang disebut sebagai momen kemenangan bagi umat Islam, terutama yang sungguh-sungguh berpuasa.

Kemenangan seperti inilah yang selama ini yang dipemahami oleh sebagian besar umat Muslim, dan idealnya memang begitu. Namun demikian, itu baru dari sisi individual-internal. Sementara kalau dilihat dari sisi sosial-eksternal, hari kemenangan tersebut tampaknya menjadi dilematis bahkan mungkin utopia sekiranya kemudian dikaitkan dengan ekonomi, politik, budaya, keamanan, dan seterusnya dalam konteks negara maupun lingkup global.

Kemenangan dari aspek individual-internal tadi bisa dikata sebagai kemenangan semu. Sejatinya tidak hanya itu saja yang menjadi misi puasa sehingga layak disebut menang ketika seseorang dianggap maksimal menjalankannya. Lebih dari itu, harus ada misi kemenangan yang lebih substansial dalam kaitannya dengan persoalan umat Islam secara nasional dan global.

Hal ini erat kaitannya dengan mentalitas umat yang sejatinya bermental pemenang dengan beberapa kriteria; bersatu, kuat, petarung, pantang menyerah, menguasai strategi, kerja sama, dan seterusnya sehingga membuat umat Islam itu sendiri menjadi umat yang kuat dan disegani yang lainnya.

Nyatanya, dalam konteks nasional dan global umat Islam kelihatannya tampil menjadi umat yang lemah. Mereka tidak mampu mengendalikan sistem, dan bahkan yang berlaku sebaliknya menjadi lahan percaturan politik dan dengan mudah dipermaikan seperti bola bola.

Secara nasional, Indonesia adalah mayoritas Islam. Tapi kenapa kemudian banyak aturan dan kebijakan yang dirasakan tidak nyaman bagi mayoritas?

Sehingga secara psikologis umat Islam Indonesia sering diperlakukan seperti minoritas. Meski pun umat Islam itu dikenal seperti singa, tapi kemudian orang tidak merasa takut lagi karena singa itu tidak lagi memiliki taring dan cakar yang tajam sehingga ketika dia mengamuk, dengan begitu mudah dapat ditundukkan.

Mentalitas menang umat Islam di Indonesia bisa dikata memudar karena beberapa indikator kemenangan tadi tidak lagi melekat. Persoalan utamanya adalah persatuan umat, dan faktor pemecahnya ada di ranah politik dan kekuasaan. Elit-elit beberapa ormas Islam terjebak dalam bisnis kekuasaan. Mereka terlena dengan jual-beli jabatan yang secara materi sangat menggiurkan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved