Breaking News:

Kupi Beungoh

Sabang di Masa Covid-19, Kerumunan di Loket, Rakyat yang Sabar, Tiket Digital, Hingga Antre Ala Bank

Di antara warga yang ikut dalam antrean mengaku sudah ikut dalam barisan (bahkan menumpuk) berjam-jam lamanya, sejak pukul 6 usai shalat subuh.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Penulis (Hasan Basri M Nur) bersama Romi Julizar, warga Aceh Besar, di tengah-tengah antrean penumpang di Pelabuhan Balohan Sabang, Sabtu 15 Mei 2021. 

Bicara tentang wisata ini, tidak salahnya Sabang juga belajar dari Singapura yang sekarang sedang sangat gencar membangun objek-objek wisata baru dan modern.

Air terjun buatan tertinggi di Asia yang berada di dalam kompleks Bandara Changi Singapura, menjadi pertanda bahwa negara Singa itu juga sedang bersiap-siap beralih dari kota pelabuhan menjadi kota wisata.

Jika Singapura harus berjuang membuat destinasi wisata, dari tidak ada menjadi ada, maka akan sungguh miris jika Sabang menyia-nyiakan potensi alam yang sudah ada, apalagi jika sampai meniadakan yang sudah ada.

Sekali lagi, pembaharuan destinasi wisata dan pelayanan harus segera dilakukan, agar Sabang tidak menjadi “anugerah Allah yang disia-siakan”.

Agar tulisan ini tidak hanya sekedar mengutuk keadaan yang sedang terjadi, maka saya mencoba memberi beberapa pendapat dan solusi untuk memperbaiki keadaan.

Agar tak terlalu melebar, dalam tulisan ini saya akan fokus kepada persoalan yang terjadi di pelabuhan Balohan, karena dalam kunjungan Lebaran Idul Fitri 1442 H atau tahun ini banyak persoalan muncul dari sini.

Baca juga: Tinjau Prokes di Balohan, Wali Kota Sabang: Penumpang Dibatasi 50 Persen dari Kapasitas

Baca juga: Penumpang dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju ke Sabang Membludak, Ini Penegasan Dinas Perhubungan Aceh

Rakyat Sabar Mengantre

Warga yang berada dalam antrean dan gagal mendapatkan tiket kapal pertama tampak penuh kesabaran mengantre.

Warga yang sudah berjam-jam berdiri ini menanti dibuka kembali loket untuk penjualan tikel kapal trip berikutnya.

Beruntunglah aparatur pemerintah memiliki rakyat yang patuh, sabar, dan tidak melakukan protes atas sistem pelayanan konvensional dan manual meski dunia abad post-modern sudah lama memasuki era digital.

“Jangan bubar dulu kita, loket akan buka lagi jam 8.30 untuk kapal kedua,” celutuk seorang pengantre.

Baca juga: Cegah Kerumunan di Lhokseumawe, Petugas Gabungan Bubarkan Pengunjung Kafe

Tiket Digital Solusinya

Romi Julizar, warga Sabang yang tinggal di Aceh Besar, tergolong kritis.

Dia mengaku prihatin melihat bentuk pelayanan yang “menyengsarakan” rakyat di tengah kemajuan teknologi digital.

“Pemandangan seperti terjadi setiap tahun, tak pernah berubah,” kata Romi.

Romi menyarankan kepada pengelola pelabuhan agar menyediakan layanan pembelian tiket secara digital guna memudahkan rakyat serta tidak terjadi penumpukan manusia di pelabuhan.

“Orang di mana-mana sudah menggunakan aplikasi dalam pelayanan publik dan bisnis. Lha, kenapa kita tidak memulainya? Apakah terlalu mahal aplikasi itu?,” tanya Romi penasaran.

Saran Romi masuk akal. Calon penumpang kapal seharusnya dapat membeli tiket dari rumah sesuai anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan (Prokes) Covid-19: Stay at home, work from home, buy ticket from home.

Nyan ban! Bah canggih bacut Sabang!

Untuk jangka panjang, pola layanan tiket digital akan memudahkan orang-orang dalam membuat perencanaan perjalanan ke Sabang sebagai destinasi wisata dunia.

Jika pemesan tiket secara digital diterapkan, maka jauh-jauh hari, orang-orang dapat memastikan hari berangkat ke Sabang dan hari pulangnya, tanpa perlu was-was bakal terlantar karena tak dapat tiket.

Baca juga: Objek Wisata Manggrove Kuala Langsa Kini Gunakan Transaksi Digital 

Baca juga: Go Digital, 609 Operator Gampong Bireuen Ikut Bimtek Sigap

Antrean ala Bank

Seandainya pemerintah dan pengelola pelabuhan belum mampu menyediakan aplikasi ticketing, maka dalam waktu dekat dan mendesak perlu disediakan mesin cetak nomor antrean di tempat penjualan ticket.

Pola ini lazim kita saksikan dalam pelayanan teller bank.

Pengantre cukup menekan tombol cetak nomor antrean, lalu dapat duduk manis sambil memantau nomor antreannya muncul layar monitor sehingga tidak terjadi penumpukan manusia.

Pada akhir tulisan ini kita selaku rakyat kecil dan awam hanya mampu bertanya: Bersediakah pemerintah dan pengelola fasilitas publik untuk memberikan pelayanan yang memudahkan dan nyaman bagi rakyat yang mereka urus?

Adakah kemauan dari pemerintah dan pengelola fasilitas publik untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang telah memudahkan hal-hal ruwet?

Jika tidak, maka selamat bertahan dalam layanan pola lama yang mulai kuno. Semoga!

Sabang, 15 Mei 2021

*) PENULIS, Hasan Basri M. Nur, Mahasiswa PhD di University Utara Malaysia (UUM), sedang melakukan penelitian di Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved