Breaking News:

Jurnalisme Warga

Menikmati Kemolekan Kuala Korek Aceh Singkil

ROBIN (perahu bermesin) yang kami tumpangi membelah muara. Air pecah membentuk ombak beserta buihbuih putih. Lanskap alam terbentang

Editor: bakri
Menikmati Kemolekan Kuala Korek Aceh Singkil
FOR SERAMBINEWS.COM
SYARIFAH AINI, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Singkil

OLEH SYARIFAH AINI, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Singkil

ROBIN (perahu bermesin) yang kami tumpangi membelah muara. Air pecah membentuk ombak beserta buihbuih putih. Lanskap alam terbentang dimulai dari cakarcakar akar batang mangrove ketika menatap ke bawah, hingga tumpukan-tumpukan awan kumulus (bentuknya seperti bunga kol) yang putih keperakan saat kami menengadah ke atas.

Silir angin menetralisir garangnya matahari pukul 12 siang saat kami menyeberang naik robin berkapasitas 15 orang selama 19 menit untuk tiba di Pulau Korek. Saat itu hari Minggu, 15 Mei, tepat di hari ketiga Syawal 1442 Hijriah.

“Pulau itu muncul barubaru ini, Kak,” kata anak Pak Khaidir pemilik robin yang kami sewa, sambil mengatur kemudi. Lelaki berusia sekitar 20-an ini kulitnya sewarna cengkih kering, khas pemuda pantai. Rambutnya bergaya mohawk alami, lurus berdiri tanpa penataan khusus. Saya yang memulai percakapan karena penasaran, mengingat dulunya saya belum pernah dengar nama Pulau Korek.

“Ah, baru muncul bagaimana?” tanya saya heran. Ternyata, dulu hanya ada satu pulau di Danau Anak Laut, Aceh Singkil. Pulau itu terbentuk karena adanya pengerukan alur pelayaran di Danau Anak Laut untuk memudahkan aktivitas nelayan empat desa yang tinggal di Gosong Telaga, Kecamatan Singkil Utara, menuju laut. Kemudian abrasi air laut menyebabkan terpisahnya daratan yang bisa diseberangi dari Desa Pancang Duo dengan jarak sekitar 350 meter menggunakan robin.

Ada yang menyebut kawasan tersebut dengan Kuala Batu atau Pulau Batu, tapi sejak terpisah menjadi tiga bagian, untuk memudahkan identifikasi pulau mana yang dimaksud, masyarakat sekitar memberi nama Kuala Korek atau Pulau Korek untuk salah satu pulau mungil yang menjadi tujuan wisata kami kali ini.

“Nggak tahu jugalah, Kak. Mungkin karena awal terbentuknya pulau itu karena pengerukan, jadilah disebut Pulau Korek saja,” kata anak Pak Khaidir yang masih saja betah meladeni saya ngobrol. Setibanya di Pulau Korek saya dan keluarga terkejut, pulau mungil itu seperti disulap menjadi pasar. Di beberapa sudut sudah ada kolonikoloni keluarga dengan bekal masing-masing.

Sementara, saya dan keluarga yang berjumlah sekitar 20 orang mulai fokus mencari lokasi yang cocok untuk menggelar tikar dan mengeluarkan bekal untuk disantap. Pulau Korek ditumbuhi cemara. Ketika robin mencium bibir pantai, saya sudah langsung menyaksikan daratan yang berundak ditumbuhi rumput pendek, terlihat seperti hamparan karpet hijau menutupi bukit-bukit kecil. Banyak tumbuhan semak bergerombol di bagian pinggir undakan tersebut dan lagi-lagi cemara mencuat di antaranya.

Menurut Haris, warga Sakub, Kecamatan Gunung Meriah, lokasi ini biasanya sangat sepi. Dia dan beberapa temannya biasa menyewa robin Pak Khaidir untuk menyeberang dan memancing di sana. Banyak monyet liar yang suka memeriksa tas bekal ketika mereka sibuk menunggu umpan dimakan ikan. Namun hari itu, entah ke mana bersembunyinya monyet- monyet itu.

Mungkin mereka bersembunyi mengamati situasi karena tempatnya sudah digantikan para pengunjung yang mulai menyalakan api untuk membuat tungkutungku pembakaran ikan. Beberapa pengunjung memasang pelantang suara dan menyalakan musik sesuai dengan selera mereka masingmasing. Saya dan keluarga menemukan lokasi tak jauh dari bibir pantai, sekalian mudah mengawasi anak-anak yang tak sabar ingin menceburkan diri ke air asin. Ombak berkejaran menjilati bibir pantai.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved