Breaking News:

Jurnalisme Warga

Begini Rasanya Terinfeksi Covid-19

AWALNYA sebuah berita di media elektronik bahwa wabah Coronavirus Disease (Covid- 19) mulai merajalela di Wuhan, Cina. Seluruh dunia bergetar

Begini Rasanya Terinfeksi Covid-19
CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Uniki, Dosen Fakultas Ekonomi Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Uniki, Dosen Fakultas Ekonomi Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

AWALNYA sebuah berita di media elektronik bahwa wabah Coronavirus Disease (Covid- 19) mulai merajalela di Wuhan, Cina. Seluruh dunia bergetar mendengar berita itu. Tak pernah terbayangkan akhirnya perjalanan wabah yang begitu jauh ke berbagai negara itu sampai juga di Indonesia, bahkan ke Aceh, provinsi paling barat negeri ini.

Tahun 2021 merupakan tahun kedua wabah corona ini menghantui dunia. Seluruh penduduk kota hingga ke desa akhirnya mengenal virus ini melalui publikasi gencar di media massa maupun berbagai sosialisasi pihak terkait. Ada yang percaya, ada juga yang mengganggap Covid ini hanya isu, rekayasa, bahkan konspirasi semata.

Tak sampai satu tahun, Covid- 19 akhirnya menjadi mimpi buruk setiap masyarakat dunia. Perkembangannya yang begitu cepat mendorong pemerintah melakukan berbagai cara untuk mengantisipasi agar grafik wabah ini tidak melonjak drastis. Tim satgas di setiap wilayah dibentuk, fasilitas kesehatan terus ditingkatkan, tetapi kita adalah manusia: hanya mampu berencana. Allah jua yang menentukan segalanya.

Awalnya saya enggan untuk menulis tentang Covid-19 ini sebagai tema reportase di rubrik Jurnalisme Warga ini. Namun, saya amati, semakin hari terus saja meningkat jumlah warga Aceh dan pendatang ke provinsi ini yang terpapar virus corona. Karena saya ingin berbagi, maka saya beranikan diri mengungkapkan bagaimana pengalaman saya pada saat divonis terinfeksi Covid-19.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, mengunjungi orang yang sedang tertimpa musibah, baik sakit maupun meninggal dunia, adalah hal yang biasa. Sebagai warga yang baik, saya pun turut serta dalam kegiatan tersebut. Saya tak pernah membayangkan bahwa ternyata kehadiran saya saat itu (Januari 2021), dan bersentuhan langsung dengan jenazah menjadi bencana bagi diri saya. Selang beberapa hari dari kegiatan itu saya batuk dan dada terasa sesak. Saya pikir, ini hanya batuk biasa, maka pengobatannya pun biasa saja. Namun, kondisi saya semakin hari bertambah parah.

Di sisi lain, saya takut ke rumah sakit, karena takut divonis Covid-19, penyakit yang mengerikan. Hari-hari yang saya lalui semakin membuat saya tak berdaya. Akhirnya, keluarga memutuskan untuk membawa saya ke salah satu rumah sakit swasta di Bireuen. Saat itu saya pasrah, apa pun yang dilakukan tim kesehatan saya terima. Kondisi saya waktu itu makin kritis, saya tak mampu lagi bernapas normal. Akhirnya, keluarga meminta saya dirujuk ke Banda Aceh.

Menggunakan ambulans rumah sakit tempat saya dirawat, dengan kecepatan di atas rata-rata, saya dilarikan ke Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Dalam ambulans saya bernapas dibantu oksigen, dengan diiringi doa dan zikir yang tak henti. Saya berpikir mungkin sudah tiba saatnya saya kembali kepada-Nya, tetapi kekuatan cinta dan kasih sayang suami, anak-anak, serta keluarga membuat saya bersemangat untuk sembuh.

Setiba di ruang ICU saya langsung ditangani oleh tim medis yang memakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Langkah awal yang mereka lakukan adalah memasang selang oksigen di hidung yang terasa panas, kemudian mendeteksi oksigen di dalam tubuh. Mereka sangat terkejut karena oksigen yang tersisa di tubuh saya hanya lebih kurang 50 saja. “Ini kondisi kritis,” kata dokter.

Kemudian dilakukan tes swab, setelah itu saya dalam keadaan antara sadar dan tidak. Berdasarkan cerita keluarga kemudian, banyak perlatan yang dipasang di badan saya. Saat dini hari, tim dokter berdiskusi dengan pihak keluarga untuk rencana pemasangan alat bantu pernapasan atau ventilator dengan bius total. Namun, karena kondisi kritis, suami memutuskan untuk tidak dipasang ventilator. Suami meminta pihak dokter untuk mencari cara lain untuk penyembuhan saya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved