Breaking News:

BSI Tetap Layani Transaksi Warga, Meski Bank Konvensional Tak Ada Lagi di Aceh

Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan hasil dari merger tiga bank anak usaha BUMN yaitu Bank Mandiri Syariah, BNI Syariah, dan BRI Syariah

Editor: bakri
BSI Tetap Layani Transaksi Warga, Meski Bank Konvensional Tak Ada Lagi di Aceh
SERAMBI FM/ILHAM
Retail Financing Business Deputy BSI Aceh, Saiful Musadir (kiri) dan Akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Nazaruddin A Wahid MA, menjadi narasumber talkshow bersama Bank Syariah Indonesia dengan tema ‘Konversi Rekening Konven ke Bank Syariah’, di Radio Serambi FM 90.2, Kamis (20/5/2021). Talkshow dipandu host Syita Otha.

BANDA ACEH - Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan hasil dari merger tiga bank anak usaha BUMN yaitu Bank Mandiri Syariah, BNI Syariah, dan BRI Syariah pada 1 Februari 2021.

Dalam konteks Aceh karena sedang menerapkan Qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS) Nomor 11 Tahun 2018, tentunya kehadiran BSI adalah suatu anugerah yang luar biasa dalam rangka untuk mendukung apa yang sudah menjadi keputusan Pemerintah Aceh.

“Tentunya ini adalah harapan besar masyarakat Aceh dalam rangka untuk hidup bersyariah dalam hal ini bermuamalah, ekonomi, dan perbankan termasuk didalamnya,” kata Retail Financing Business Deputy BSI Aceh, Saiful Musadir saat menjadi narasumber dalam Talkshow Interaktif dengan tema ‘Konversi Rekening Konven ke Bank Syariah’, yang disiarkan langsung melalui Radio Serambi FM 90,2 MHz, Facebook Serambinews.com, Kamis (20/5/2021).

Dalam Talkshow Interaktif yang dipandu Host, Syita Otha, itu juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Akademisi UIN Ar-Raniry sekaligus Ketua Baitul Mal Aceh, Prof Dr Nazaruddin A Wahid MA. “Oleh karena itu sejak Qanun LKS ditetapkan pada 2018, maka kami dari Bank Syariah anak usaha BUMN telah mempersiapkan dari tahun 2019 semua yang ada di bank konvensional produk-produknya, layanannya kita buat produk kesepadanan di bank syariah. Sehingga masyarakat Aceh akan tetap terlayani kebutuhan transaksi keuangannya walaupun banknya sudah tidak ada lagi konvensional,” jelas Saiful.

Artinya, dikatakan Saiful, Bank Syariah itu akan tetap bisa mengakomodir apapun kebutuhan transaksi masyarakat selama ini yang ada di konvensional dengan produk-produk yang kompetitif. “Dari sisi layanan yang saat ini digital, dan di masa pandemi kecenderungan orang untuk hadir ke kantor makin sedikit, maka kami menyiapkan aplikasi BSI Mobile. Sehingga transaksi keuangan bisa dilakukan hanya dalam genggaman,” sebutnya.

Ia menambahkan, produk-produk yang ditawarkan dari sisi simpanan juga seperti konvensional ada tabungan, giro, deposito, namun akad yang digunakan adalah akad syariah sudah disesuaikan dengan fatwa Dewan Syariah MUI, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir menempatkan dana di Bank Syariah Indonesia.

Akademisi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Prof Dr Nazaruddin A Wahid MA menyampaikan pelaksanaan konversi ke syariah merupakan wujud dari keinginan masyarakat Aceh sejak dulu untuk menerapkan syariat Islam.

“Jadi kita dulu berjuang untuk syariat Islam yang waktu itu belum terlaksana, kemudian hadir Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 yang memberikan kepada Pemerintah Aceh untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah,” sebutnya.

Dikatakan, jadi Undang-Undang itu sudah memberikan kewenangan untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Ini cikal bakal masyarakat Aceh mengharapkan penerapan syariat Islam.(una)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved