Film
Film Tjoet Nja' Dhien Hasil Restorasi di Belanda Kembali Diputar di Bioskop
Meski kesehatan makin buruk, kedua matanya sudah tidak bisa melihat lagi, tapi Tjoet Nja' Dhien tetap tegar tidak bersedia menyerah.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Fikar W Eda I Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - "Aku hanya takut pada kebimbangan hati manusia-manusia yang ada di sekelilingku," kata Tjoet Nja' Dhien dalam Film Tjoet Nja' Dhien yang kembali diputar di lima bioskop di Jakarta bertepatan dengan Hari Kebangkitanan Nasional, 20 Mei 2021.
Film yang baru saja direstorasi di Belanda itu, tampak jauh lebih jernih dari kualitas audiovisualnya.
Wartawan Serambinews.com, berkesempatan menonton film hasil restorasi ini Kamis (20/5/2021) pukul 19.00-21.00 WIB di Studio 4 bioskop TSM Cibubur Jakarta Timur.
Film karya sutradara Eros Djarot ini berhasil memenangi delapan piala citra dalam Festival Film Indonesia 1988.
Sosok Tjoet Nja' Dhien diperankan dengan sangat berkesan oleh aktris Chrstine Hakim, melontarkan penegasan tentang kebimbangan hati orang-orang di sekeliingnya dalam dialog dengan Pang Laot, diperankan Pietrajaya Burnama, tangan kanan Teuku Umar dan kemudian mendampingi Tjoet Nja' Dhien dalam bergrilya melawan Belanda di hutan Beutong Lhe Sagoe.
Tapi Pang Laot di ujung perjuangannya mulai goyah dan ragu atas perang yang mereka lakoni.
"Aku tidak tahu lagi Tjoet Nja' apa yang kita perangi, kita sudah semakin parah, sebentar lagi lumpuh, " ujar Pang Laot yang mulai ragu.
"Ingat perang kita kali ini perang melawan kegoyahan iman. Camkan itu," tukas Tjoet Njak Dhien lagi kepada Panglima Laot.
Meski kesehatan makin buruk, kedua matanya sudah tidak bisa melihat lagi, tapi Tjoet Nja' Dhien tetap tegar tidak bersedia menyerah.
• Sekjen PBB: Anak-anak Gaza, Hidup Seperti Dalam Neraka
• UPDATE CORONA - Banda Aceh Bertambah 40 Kasus Baru Pasien Positif Covid-19
Tapi Panglima Laot menginginkan sebaliknya, ia menyarankan sebaiknya Tjoet Nja' Dhien menyerah karena kondisi kesehatan yang semakin parah.
Pang Laot akhirnya menempuh jalan ini dan membocorkan keberadaan Tjoet Nja' Dhien, dengan perjanjian Tjoet Nja' Dhien dihormati dan tidak dipisahkan sari rakyat Aceh.
Tapi Belanda tidak menepati janji itu, pada 1906 mengasingkan Tjoet Nja' Dhien ke Sumedang Jawa Barat dan meninggal dunia di sana.
Sebelumnya Tjoet Nja' Dhien sudah mencium adanya yang berkhianat dari pasukannya sendiri yang membuat pasukan menderita kekalahan demi kekalahan.
"Kekalahan demi kekalahan yang kita alami, semua karena penghianatan oleh orang kita sendiri," sindir Tjoet Nja' Dhien.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bdtyuhjbn.jpg)