Breaking News:

Opini

Mengorupsi Beasiswa

Dengan bercucuran air mata R.A. Kartini, menulis surat kepada Rosa Abondanon, istri dari Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda

Mengorupsi Beasiswa
FOR SERAMBINEWS.COM
Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh

Oleh Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh

Dengan bercucuran air mata R.A. Kartini, menulis surat kepada Rosa Abondanon, istri dari Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, tentang kemungkinan ia tidak bisa mengambil beasiswa yang diberikan Kerajaan Belanda kepadanya sebesar F4.800 (Gulden) (Rp 360 juta kurs saat ini).

Meskipun Kartini dikenal sebagai perempuan progresif dan jenius untuk ukuran perempuan Jawa saat itu, ia akhirnya takluk oleh budaya patriakhi Jawa. Ia terpaksa menerima pinangan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang telah memiliki tiga istri, untuk kembali kawin lagi. Gerakan emansipasinya rubuh di tengah tradisi keluarga bangsawan yang penuh pembatasan, termasuk kepatuhannya kepada sang ayah demi menjaga nama baik lingkungan pendoponya.

Dalam surat yang ditulis dalam Bahasa Belanda yang jernih, ia meminta beasiswa yang tidak bisa digunakannya itu untuk dialihkan kepada seorang pemuda yang dikenal cukup cerdas: Agus Salim. Pemuda asal Sumatera Barat itu telah dikenal di pulau Jawa karena kepintarannya, termasuk penguasan beberapa bahasa Eropa.

"Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda. Kami ingin melihat dia dikaruniai bahagia. Anak muda itu namanya Salim, orang Sumatera yang tahun ini mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS. Ia keluar sebagai juara pertama dari ketiga-tiga HBS. Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan. Gaji ayahnya cuma F 150 -sebulan," tulis Kartini.

Kartini bahkan meminta jika bisa beasiswanya ditambah untuk Salim menjadi F8.000 (Rp 600 juta kurs saat ini). Meskipun akhirnya, Agus Salim, ketika mendengar tentang ini menolak menerima beasiswa itu dan menempa diri menjadi otodidak yang genuine. Ia menerima takdir

sejarah sebagai diplomat paling ulung yang dimiliki Bangsa Indonesia. Tanpa pendidikan tinggi ke Belanda, Agus Salim menguasai sembilan bahasa asing di antaranya Inggris, Belanda, Perancis, dan Jerman.

Kasus lama, tidak lenyap

Kisah tentang beasiswa sebagai salah satu peluang pencerdasan anak bangsa, terutama bagi anak-anak yang tidak terlahir dari keluarga hartawan, adalah sangat signifikan. Beasiswa adalah jalan menuju perubahan nasib seseorang. Karena dengan pendidikan yang lebih tinggi, ia bisa mengubah nasibnya dan masyarakat melalui kecerdasan, otoritas ilmu, dan kepakaran.

Namun ironinya, korupsi tentang beasiswa malah sedang bergaung di daerah yang asik berwacana tetang Lembaga Keuangan Syariah ini.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved