Breaking News:

Jurnalisme Warga

Pebante, Tradisi Menyambut Idulfitri di Aceh Tenggara

ACEH Tenggara (Agara) memiliki khazanah tradisi lokal yang unik pada bulan Ramadhan

Editor: bakri
Pebante, Tradisi Menyambut Idulfitri di Aceh Tenggara
FOR SERAMBINEWS.COM
MUHADI KHALIDI, M.Ag. Kepala Humas Yayasan Fathurrahman Zaky Aceh Tenggara dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

Di sinilah momentum terbangunnya tali persaudaraan yang kuat dan kokoh. Kebiasaan pebante akan menularkan spirit bersosial dan sikap kerja sama di berbagai rutinitas lain di luar pebante. Pada konteks kesetaraan hak, bisa dilihat dari setiap daging yang dibagikan, yakni ditimbang sesuai dengan kesepakatan kelompok. Jika satu orang mendapatkan 3 kg daging, maka seluruh orang yang ada dalam kelompok tersebut harus mendapatkan porsi yang sama.

Selain itu, tradisi pebante juga menjamin setiap rumah (per KK) mendapatkan jukut (daging). Apalagi saat ini setiap kute (desa) telah masuk kepada anggaran desa. Jadi, mustahil tidak ada warga ataupun masyarakat yang tidak mendapatkan jukut pebante. Andaipun tidak ada dana desa, dengan sendirinya masyarakat akan membuat kelompok pebante di setiap kute nantinya. Oleh karenanya, tradisi pebante ini hendaknya kita dukung dan kita jaga karena banyak mengandung kemaslahatan bagi semua elemen masyarakat.

Tradisi ini sangat membantu warga dalam menikmati daging lembu yang terkadang hanya mampu dibeli oleh kalangan menengah ke atas saja. Masih ada segelintir warga yang hanya merasakan lezatnya daging setahun sekali. Dengan adanya tradisi pebante ini, pastinya akan mengurangi beban sebagian yang lainnya dan menciptakan rasa kepuasan di antara sesama. Selanjutnya, jangan sampai tradisi pebante yang baik ini dirusak oleh beberapa perlakuan oknum masyarakat yang tak bertanggung jawab.

Misalnya, mempertontonkan dirinya tidak berpuasa pada hari pebante, baik itu dengan minum lawe sirup (air sirop), merokok, bahkan makan di depan umum dengan alasan sebagai panitia pebante. Ini harus disadari, tidak ada namanya ketaatan bila itu bertentangan dengan perintah Allah Swt. Maka dari itu, panitia pebante mestilah sosok yang sanggup berpuasa sekaligus menjadi panitia. Bila tidak ada satu orang pun yang mampu, maka lebih baik pebante ditiadakan daripada perintah Allah dilanggar. Oknum panitia pebante yang sengaja meninggalkan puasa merupakan model buruk bagi masyarakat, khususnya kalangan anak-anak. Pola pikir anak akan terkacaukan dan akan menjadi sebuah dogma baginya bahwa ‘wajar’ tidak berpuasa jika menjadi panitia pebante. Padahal, Nabi Muhammad dan sahabat dulu berperang justru saat Ramadhan, tapi tidak ada di antara mereka yang sengaja tidak berpuasa meskipun dalam mempertaruhkan hidup dan mati di medan tempur.

Oleh sebab itu, mari bersama- sama menjaga tradisi pebante ini dengan penuh keikhlasan. Masyarakat harus bijak dan cerdas dalam menyikapi berbagai situasi.Saat melihat oknum yang tidak berpuasa saat ritual pebante misalnya, mari kita ingatkan bersama- sama. Kalau tak berani mengingatkan, setidaknya jangan mengikuti hal yang demikian.

Bagi yang memiliki anak, jangan lupa mengingatkan kepadanya bahwa tradisi pebante bukanlah sebuah alasan untuk tidak berpuasa. Dengan begitu, anak tetap akan terproteksi pemikirannya meskipun menyaksikan hal-hal yang tidak seharusnya. Semoga Allah Swt selalu menuntun kita ke jalan yang benar. Amin.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved