Breaking News:

Jurnalisme Warga

Pebante, Tradisi Menyambut Idulfitri di Aceh Tenggara

ACEH Tenggara (Agara) memiliki khazanah tradisi lokal yang unik pada bulan Ramadhan

Editor: bakri
Pebante, Tradisi Menyambut Idulfitri di Aceh Tenggara
FOR SERAMBINEWS.COM
MUHADI KHALIDI, M.Ag. Kepala Humas Yayasan Fathurrahman Zaky Aceh Tenggara dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

OLEH MUHADI KHALIDI, M.Ag. Kepala Humas Yayasan Fathurrahman Zaky Aceh Tenggara dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

ACEH Tenggara (Agara) memiliki khazanah tradisi lokal yang unik pada bulan Ramadhan. Mulai dari penyambutan, mandi meugang, qunud, lamle, hingga penutup Ramadhan. Dalam hal penyambutan Hari Raya Idulfitri, salah satu kebiasaan yang tak pernah terlewatkan adalah tradisi pebante.

Ini merupakan tradisi menyembelih hewan berupa lembu ataupun kerbau yang dilakukan secara berkelompok- kelompok di setiap desa di Agara. Lembu atau kerbau yang dibeli merupakan hasil patungan selama setahun oleh tiaptiap kelompok. Biasanya, ada dua cara untuk membeli lembu atau kerbau pebante.

Cara pertama, lembu atau kerbau dibeli tiga atau lima bulan sebelum masuk bulan Ramadhan. Selanjutnya, lembu tersebut dipelihara kembali dengan cara diupahkan kepada pihak yang berpengalaman.

Hal tersebut dilakukan agar diperoleh daging yang lebih banyak bila momentum pebante tiba. Cara kedua, lembu tersebut dibeli dua hari atau paling lama satu minggu sebelum hari pebante. Tentu saja dengan taksiran harga sesuai dengan uang yang telah terkempul oleh masing-masing kelompok.

Misal, jika uang yang dikumpulkan hanya cukup membeli lembu dengan taksiran 90 kilogram, maka dibeli dengan harga yang demikian. Mengingat cara pertama lebih ideal, maka mayoritas masyarakat cenderung memilih untuk membeli lembu jauh-jauh hari dan dipelihara hingga masa pebante tiba. Bisa dibilang, tradisi pebante ini sedikit kesulitan di masa-masa awal prosesinya. Hal tersebut dikarenakan jumlah penduduk yang masih minim serta kurangnya dukungan dari pihak pemerintah.

Namun saat ini, semenjak adanya dana desa, tradisi pebante terasa lebih mudah.Secara materi, individu tak lagi mengeluarkan dana pribadi untuk pebante dan sudah ditangani oleh penghulu ataupun kepala desa setempat. Kini, satu desa bisa menyembelih tiga sampai empat lembu, tergantung pada jumlah masyarakat di setiap desa dengan sistem kepanitiaan dan gotong-royong. Acara pebante biasanya dilakukan satu hari sebelum Lebaran, dimulai dari pukul 7 sampai dengan pukul 10 pagi. Hal tersebut dilakukan karena pada pukul 10 kaum hawa, khususnya ibu rumah tangga, telah selesai berbelanja di pasar.

Mereka membeli berbagai kebutuhan dan perlengkapan daging pebante. Misalnya, bumbu, alat masak, dan menu tambahan lainnya. Proses pebante pun tergelong unik. Satu kelompok berjumlah tujuh sampai sepuluh orang dan bisa lebih. Tergantung pada kesepakatan dari masing-masing kelompok. Saat hari pebante, tiap-tiap orang dalam satu kelompok membawa masingmasing peralatan dari rumah untuk memotong lembu atau kerbau, berupa pisau belati, pisau parang, kayu beroti, cekum, ember, tali ikat, pelastik, goni, serta daun pisang sebagai wadah pembagian daging lembu yang akan dibagi nantinya. Sebelum menyembelih lembu, ketua kelompok biasanya mengundang seorang tetua kampung ataupun teungku sebagai esekutor dalam menyembelih lembu pada hari pebante.

Setiap anggota kelompok bahu-membahu membantu tetua dalam penyembelihan. Mulai dari bulak ken (menjatuhkan) lembu, dan ngelemi (memegang) lembu agar tidak berontak saat disembelih nantinya.Terkait upah bagi penyembelih, adalah setumpuk daging lembu yang sudah disembelih nantinya. Filosofi pebante Tradisi pebante sendiri memiliki dua filosofi: pebante sebagai ajang memperkokoh tali persaudaraan dan pebante sebagai penyetaraan hak setiap warga.

Dalam konteks pebante sebagai ajang memperkokoh tali persaudaraan, bisa dilihat dari sikap saling gotong royong semua warga saat hari penyembelihan lembu. Semua masyarakat dalam tiap kelompok bahu-membahu serta bekerja sama di hari pebante. Mulai dari persiapan penyembelihan, pembersihan, pemotongan, hingga pada saat pembagian daging lembu. Semua itu dilakukan secara ikhlas serta penuh rasa tanggung jawab.

Di sinilah momentum terbangunnya tali persaudaraan yang kuat dan kokoh. Kebiasaan pebante akan menularkan spirit bersosial dan sikap kerja sama di berbagai rutinitas lain di luar pebante. Pada konteks kesetaraan hak, bisa dilihat dari setiap daging yang dibagikan, yakni ditimbang sesuai dengan kesepakatan kelompok. Jika satu orang mendapatkan 3 kg daging, maka seluruh orang yang ada dalam kelompok tersebut harus mendapatkan porsi yang sama.

Selain itu, tradisi pebante juga menjamin setiap rumah (per KK) mendapatkan jukut (daging). Apalagi saat ini setiap kute (desa) telah masuk kepada anggaran desa. Jadi, mustahil tidak ada warga ataupun masyarakat yang tidak mendapatkan jukut pebante. Andaipun tidak ada dana desa, dengan sendirinya masyarakat akan membuat kelompok pebante di setiap kute nantinya. Oleh karenanya, tradisi pebante ini hendaknya kita dukung dan kita jaga karena banyak mengandung kemaslahatan bagi semua elemen masyarakat.

Tradisi ini sangat membantu warga dalam menikmati daging lembu yang terkadang hanya mampu dibeli oleh kalangan menengah ke atas saja. Masih ada segelintir warga yang hanya merasakan lezatnya daging setahun sekali. Dengan adanya tradisi pebante ini, pastinya akan mengurangi beban sebagian yang lainnya dan menciptakan rasa kepuasan di antara sesama. Selanjutnya, jangan sampai tradisi pebante yang baik ini dirusak oleh beberapa perlakuan oknum masyarakat yang tak bertanggung jawab.

Misalnya, mempertontonkan dirinya tidak berpuasa pada hari pebante, baik itu dengan minum lawe sirup (air sirop), merokok, bahkan makan di depan umum dengan alasan sebagai panitia pebante. Ini harus disadari, tidak ada namanya ketaatan bila itu bertentangan dengan perintah Allah Swt. Maka dari itu, panitia pebante mestilah sosok yang sanggup berpuasa sekaligus menjadi panitia. Bila tidak ada satu orang pun yang mampu, maka lebih baik pebante ditiadakan daripada perintah Allah dilanggar. Oknum panitia pebante yang sengaja meninggalkan puasa merupakan model buruk bagi masyarakat, khususnya kalangan anak-anak. Pola pikir anak akan terkacaukan dan akan menjadi sebuah dogma baginya bahwa ‘wajar’ tidak berpuasa jika menjadi panitia pebante. Padahal, Nabi Muhammad dan sahabat dulu berperang justru saat Ramadhan, tapi tidak ada di antara mereka yang sengaja tidak berpuasa meskipun dalam mempertaruhkan hidup dan mati di medan tempur.

Oleh sebab itu, mari bersama- sama menjaga tradisi pebante ini dengan penuh keikhlasan. Masyarakat harus bijak dan cerdas dalam menyikapi berbagai situasi.Saat melihat oknum yang tidak berpuasa saat ritual pebante misalnya, mari kita ingatkan bersama- sama. Kalau tak berani mengingatkan, setidaknya jangan mengikuti hal yang demikian.

Bagi yang memiliki anak, jangan lupa mengingatkan kepadanya bahwa tradisi pebante bukanlah sebuah alasan untuk tidak berpuasa. Dengan begitu, anak tetap akan terproteksi pemikirannya meskipun menyaksikan hal-hal yang tidak seharusnya. Semoga Allah Swt selalu menuntun kita ke jalan yang benar. Amin.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved