Breaking News:

Opini

Gerhana dan Tuntutan Beribadah

Berhubung teknologi sudah semakin baik, dampak ilmu astronomi praktis (ilmu falak) memudahkan masyarakat luas dalam pelaksanaan ibadah shalat gerhana

Editor: bakri
Gerhana dan Tuntutan Beribadah
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M. Ag, Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Founder Pemantik (Pusat Entrepreneur dan Menulis)

Salah satunya terjadi pasang-surut air laut, bahkan bisa berpotensi menimbulkan gempa bumi. Pada gerhana matahari total, efek hilangnya cahaya matahari (walau sesaat) bisa mengakibatkan perubahan suhu, terjadi badai, dan mengeruhkan udara.

Gejolak alam di atas, menunjukkan ada hikmah di balik durasi gerhana yang singkat. Coba bayangkan seandainya proses gerhana terjadi berhari-hari bahkan berminggu-minggu, mungkin keseimbangan alam akan rusak dan bencana besar akan terjadi dimana-mana.

Ini semakin menguatkan, alasan mengapa manusia diminta untuk shalat. Salah satunya sebagai doa agar gerhana cepat berlalu. Dalam hadis dijelaskan:" Jika kalian mengalaminya (gerhana) maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah shalat hingga selesai gerhana." (HR. Bukhari dan Muslim).

Mitos gerhana

Sebagai fenomena alam yang terjadi akibat pergerakan benda-benda langit pada orbitnya (falak), gerhana bukanlah temuan baru. Pada zaman batu, gerhana ditafsirkan manusia primitif sebagai bentuk kemarahan dewa. Minimnya ilmu, membuat kepala suku masa itu memberikan tumbal berupa nyawa manusia agar gerhana bisa dilewati. Entah berapa nyawa tak berdosa yang terpaksa dipancung mengingat gerhana bisa terjadi beberapa kali dalam satu tahun.

Sekitar 20 abad silam, orang Cina menganggap gerhana terjadi karena ada naga kasap mata yang sedang menelan matahari. Agar matahari tidak hilang, maka raja menyuruh rakyat untuk memukul genderang, serta memintakan prajuritnya untuk menembakkan panah ke langit.

Ritual itu dilakukan untuk mengusir naga dan menyelamatkan matahari. Di India, masyarakat klasik berfikir bahwa gerhana terjadi karena ada ular besar yang hendak memakan bulan. Pemikiran itu yang kemudian menghadirkan budaya mandi gerhana. Ini adalah ritual masyarakat India yang sengaja merendam diri di kolam hingga meninggalkan kepala di atas air. Hal itu dilakukan sebagai dukungan terhadap bulan agar dapat bertahan.

Mitos gerhana juga pernah terjadi di Jepang. Segelintir masyarakatnya masih percaya bahwa gerhana menyebabkan matahari mengeluarkan racun yang menghujani bumi. Sebagai bentuk antisipasi, masyarakat Jepang akan menutup pusat mata air, sumur, dan air lainnya agar tidak terkontaminasi dengan racun.

Indonesia juga tidak ketinggalan, pada kalangan Jawa tradisional, masih ada yang mempercayai bahwa gerhana terjadi akibat ulah Buto (raksasa) yang hendak memakan matahari. Agar itu tidak terjadi, masyarakat Jawa masa itu melakukan ritual kentongan untuk mengusir Buto, yaitu membunyikan berbagai alat yang menghasilkan suara seperti gendang, drum, gong, dan lain sebagainya.

Selain itu, di beberapa wilayah pelosok Indonesia lainnya, ada yang menganggap bahwa gerhana berbahaya bagi perempuan yang sedang hamil. Maka dari itu, mereka menyuruh ibu hamil untuk bersembunyi di bawah meja atau di bawah tempat tidur. Persembunyian itu dilakukan agar bayi yang dilahir tidak cacat, tidak merah sebelah, atau bahkan tidak meninggal ketika dilahirkan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved