Breaking News:

Opini

Gerhana dan Tuntutan Beribadah

Berhubung teknologi sudah semakin baik, dampak ilmu astronomi praktis (ilmu falak) memudahkan masyarakat luas dalam pelaksanaan ibadah shalat gerhana

Editor: bakri
Gerhana dan Tuntutan Beribadah
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M. Ag, Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Founder Pemantik (Pusat Entrepreneur dan Menulis)

Itulah sebagian mitos yang lahir akibat melihat gerhana dengan pendekatan budaya. Bila bersandar pada hukum Islam, tidak boleh meyakini mitos tersebut karena akan menganggu aqidah seorang Muslim.

Fenomena serupa ternyata pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW, saat itu Rasul mengalami kabar duka dimana putranya yang masih bayi (Ibrahim) meninggal dunia. Kebetulan, ketika hendak menjalankan proses pemakaman, terjadi gerhana matahari total.

Pristiwa langka itu pun kemudian dikaitkan oleh masyarakat sebagai akibat dari meninggalnya Ibrahim. Mendengar kabar angin tersebut, Nabi kemudian bersabda; "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari kekuasaan Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga gerhana pulih kembali." (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Berbagai narasi di atas memberikan manusia teguran, betapa pentingnya pemahaman antara Sains dan agama. Keduanya harus saling melengkapi dan tidak boleh dipisahkan. Sains tanpa agama bisa sesat dan kehilangan tujuan, sedangkan agama tanpa Sains akan terbatas pada dokrin masa lalu. Sains bisa berkembang atas dasar petunjuk dari agama (Alquran), dan agama akan kaku dan tidak efisien tanpa dukungan Sains.

Kenyataan hari ini, Muslim jauh tertinggal dari Barat bila berbicara pencapaian Sains (teknologi). Salah satu sebabnya adalah karena Muslim sempat membedakan (pilih-pilih) antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Pada istilah yang lebih agamis, disebut sebagai ilmu yang terbagi atas fardhu `ain dan fardhu kifayah.

Ilmu akhirat adalah fardhu `ain sehingga wajib dipelajari semua etnis muslim tanpa terkecuali. Sementara ilmu dunia, boleh dipelajari tapi tidak wajib. Bahkan, ilmu dunia boleh ditinggalkan jika sudah ada oknum lain yang mempelajarinya (kifayah).

Muslim berfikir bahwa cukup orang nonmuslim yang mempelajari ilmu dunia, padahal itu keliru dan perlu segera dibenahi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved