Breaking News:

Opini

Lansia Bahagia Bersama Keluarga

Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) diperingati setiap tanggal 29 Mei setiap tahunnya. HLUN adalah hari dimana negara ingin mengapresiasi

Editor: bakri
Lansia Bahagia Bersama Keluarga
IST
Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Madya pada RSU Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara

Permasalaham Lansia umumnya terjadi seiring menurunnya derajat kesehatan. Tanda khas dari proses menua adalah kemunduran kemampuan motorik yang tampak dari melambatnya gerakan, hilangnya kordinasi halus dan berkurangnya kekuatan. Perubahan itu menghambat kualitas gerakan fisik, berkurangnya gerakan otot, kecepatan reflek menurun, dan hilangnya keseimbangan anggota gerak bawah (sehingga mudah jatuh).

Keterbatasan anggota gerak tersebut mengakibatkan Lansia merasa dirinya tidak berguna lagi dan tidak bermanfaat bagi orang lain, sehingga akan muncul rasa kesendirian (lonelyness). Lansia memiliki kecenderungan untuk menarik diri dari pergaulan atau lingkungan sosial, cenderung menutup diri, merasa tidak memiliki kemampuan, merasa kurang memiliki harga diri dan mempunyai sensitivitas yang berlebihan.

Lansia yang kurang bersosialisasi akan merasa kesepian dan menyebabkan hilangnya nafsu makan dan menjadi kekurangan gizi. Apalagi bila tertekan masalah ekonomi, yang sebelumnya bekerja kemudian terputus (pensiun, PHK) akan menimbulkan masalah kejiwaan karena merasa kekurangan kharisma dan menurunnya penghasilan.

Sejatinya masalah psikososial ini ditentukan oleh aspek sosial budaya dan tradisi yang berlaku di keluarga. Peran keluarga dalam mempertahankn perasaan aman dan harga diri Lansia dapat mengurangi masalah psikososial ini.

Masalah kesehatan dan gizi yang sering terjadi pada Lansia adalah penyakit degeneratif karena menurunnya fungsi-fungsi organ tubuh misalnya: diabetes, darah tinggi, penyakit jantung, gangguan ginjal, rematik, dan lainnya. Kondisi kelainan gizi semakin parah pada Lansia yang dimensia (pikun), akibatnya sering makan atau malah jadi lupa makan yang dapat menyebabkan kegemukan/kurang gizi.

Proses menua terjadi pada semua organ tubuh dan mempunyai implikasi gizi sehingga perlu keterlibatan peran keluarga dalam mengantisipasinya seperti kulit menjadi keriput, berkurang fungsi otot-otot, jantung, pembuluh darah, pernafasan, saluran cerna, ginjal, dan lain-lain. Tentu saja di sini perlu pengaturan pola makan yang sehat untuk meyeimbangkannya.

Apalagi tulang dan gigi sudah keropos dan mudah patah. Gigi geligi mudah goyah dan satu persatu tanggal, sehingga tidak bisa lagi mengonsumsi makanan yang keras. Apabila keluarga tidak memeprsiapkan makanan khusus untuk lansia di masa ini maka akan mengalami kekurangan gizi berkepanjangan. Melalui HLUN ini mari kita bahagiakan para Lansia orang tua kita dengan membersamai mereka dalam keluarga kita. Sisihkan sedikit waktu dan perhatian untuk kasih sayang, mengolah makanannya bagaikan beliau menyayangi dan memperhatikan makanan kita diusia balita.

Berikut beberapa syarat makanan untuk Lansia yang bisa dipersiapkan untuk ayah dan bunda yang sudah lansia: makanan mengandung cukup energi dan zat gizi serta beraneka ragam bahan makanan, pilihlah sumber energi dari karbohidrat komplek seperti serealia dan sayur-sayuran, porsi makanan diberikan kecil dan hangat serta segar (jangan sisa makanan yang dipanaskan, pastikan makan baru dimasak), jumlah lemak dibatasi dan pilih asam lemak tak jenuh ganda, pilih protein yang bernilai biologi tinggi, dan makanan tinggi serat,tinggi kalsium dan zat besi, batasi penggunaan garam serta makan makanan yang mudah dikunyah seperti makanan lembek.

Pada akhir tulisan ini penulis ingin mengingatkan meskipun proses penuaan tidak bisa dilawan, namun banyak upaya yang bisa dilakukan untuk menjalani usia senja dengan sehat, tetap aktif dan kuat salah satunya dengan konsumsi nutrisi yang tepat dan berolahraga. Sejatinya ini bisa terlaksana dengan keterlibatan seluruh anggota keluarga. Para Lansia perlu mendapat treatment agar memiliki sisa kehidupan yang lebih baik.

Proses penuaan tidak hatus identik dengan penyakit bila kita anggota keluarga mempraktikkan kebiasaan hidup sehat agar kualitas hidup Lansia menjadi lebih baik. Peran keluarga sangat diutamakan menjadi tempat persemaian kebahagian bagi Lansia. Berada di tengah keluarga yang bahagia dengan penuh cinta di sisa usia adalah anugerah yang luar biasa bagi orang tua.

Tentu saja selain peran keluarga, di masa pandemi ini perlu penanganan yang lebih intensif dari berbagai pihak. Peran dari berbagai stakeholders pada saat ini sangat diperlukan. Apalagi "Kehadiran Negara" untuk Lansia di situasi ini mutlak diperlukan. Selamat Hari Lanjut Usia Nasional!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved