Breaking News:

Internasional

Orang Kuat Libya Khalifa Haftar Poles Citra Politiknya Jelang Pemilu, Seusai Kalah di Medan Perang

Orang kuat Libya Khalifa Haftar memoles citra politiknya menjelang pemilu Desember 2021.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Orang kuat Libya, Jenderal Khalifa Haftar 

SERAMBINEWS.COM, TRIPOLI - Orang kuat Libya Khalifa Haftar memoles citra politiknya menjelang pemilu Desember 2021.

Setelah kekalahan memalukan di medan perang dan dukungannya yang semakin berkurang di dalam dan luar negeri, kata para analis.

Dilansir AFP, Sabtu (29/5/2021), pasukan Haftar yang berbasis di timur bertempur lebih dari setahun untuk merebut ibu kota Tripoli di barat.

Tetapi kekalahan mereka pada Juni 2020 membuka panggung untuk pembicaraan damai yang didukung PBB.

"Dia berharap pemilu akan memberinya kemenangan politik setelah kekalahan militernya," kata profesor hubungan internasional, Miloud El-Hajj.

Haftar telah muncul sebagai pemain kunci selama dekade kekerasan setelah penggulingan diktator Muammar Qaddafi pada 2011.

Baca juga: Kanselir Jerman Minta Erdogan Tarik Pasukan Turki dari Libya

Marshall lapangan ini telah memerangi militan Islam dan telah membangun basis dukungan yang kuat di antara suku-suku berpengaruh Libya timur.

Termasuk negara tetangga Mesir dan Rusia.

"Nada bicara dan bahasanya telah berubah," kata Haji. Haftar.

Dia telah menjatuhkan wacana militernya demi janji untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat.

Dia ingin membangun basis kekuatannya di sekitar kota kedua Libya, Benghazi, tempat lahirnya pemberontakan yang didukung NATO tahun 2011 yang menggulingkan dan menewaskan Qaddafi.

Dia menemukan sekutu di antara suku-suku kuat di kawasan itu, yang menyediakan banyak tenaga untuk berbagai serangan Haftar.

Tapi hari ini, Haftar telah kehilangan basis dukungannya, menurut analis Libya, Mahmoud Khalfallah.

Namun, dua tahun sejak Tentara Nasional Libya melancarkan serangan untuk menggulingkan pemerintah persatuan yang didukung Turki di Tripoli, kondisinya sudah sangat berbeda.

Gencatan senjata resmi Oktober 2020 lalu menggerakkan proses yang dipimpin PBB yang mengarah pada pembentukan pemerintahan sementara.

Dengan tugas menyatukan lembaga-lembaga negara yang terpecah, meluncurkan upaya rekonstruksi dan mempersiapkan pemilihan Desember 2021.

Haftar tetap tidak menonjolkan diri selama pembicaraan..

Tetapi dalam beberapa pekan terakhir ia kembali melakukan demonstrasi publik.

Dengan berjanji untuk membangun tiga kota baru dan ribuan unit perumahan untuk keluarga "para martir".

"Dia tidak lagi menikmati dukungan yang tak terbantahkan dari suku-suku, yang menyalahkannya karena melibatkan putra-putra mereka dalam perang di mana banyak yang mati sia-sia," tambah Khalfallah.

"Dia tahu mereka tidak lagi mempercayainya dan mereka tidak akan menyerahkan putra mereka lagi untuk perang lagi," ujarnya.

Baca juga: Menlu Libya Puji Italia, Harapkan Bantu Stabilitas dan Minta Dukungan Internasional Jelang Pemilu

Meskipun beberapa pertemuan dengan para pemimpin suku dalam upaya mendapatkan kembali dukungan, Haftar dihadapkan pada masalah pembangkangan yang serius, menurut spesialis Libya, Jalel Harchaoui.

“Keuangannya telah mengering dan harapannya untuk perluasan wilayah di barat telah diblokir,” tambah Harchaoui.

Bahkan sekutu asing Haftar semakin waspada dan mendukung pemerintahan sementara yang baru, kata Khalfallah.

"Sponsor asingnya ... telah memahami bahwa proses politik, satu-satunya solusi yang mungkin" ntuk melindungi kepentingan mereka di Libya," katanya.

Haftar telah memainkan peran yang kontroversial tetapi penting di Libya sejak negara itu mengalami kekacauan setelah penggulingan Qaddafi.

Sebelum kampanye untuk merebut Tripoli, ia meluncurkan operasi yang sukses pada Mei 2018 untuk mengusir milisi Islam dari kota Derna di timur.

Diikuti oleh operasi lainnya pada 2019 di selatan gurun yang kaya minyak.

Marsekal lapangan, yang bertugas di angkatan bersenjata Qaddafi sebelum jatuh dari kejayaan setelah kekalahan tajam Libya di Chad pada tahun 1987, sekarang kembali secara politik.

Salah satu sumber diplomatik Eropa memperingatkan.

Jka para pemain kunci seperti Haftar dikeluarkan dari proses politik, maka dapat menjadi perusak.

Bahkan, merusak upaya menstabilkan negara.

Baca juga: Italia Kerahkan Pasukan ke Libya, Menhan Nilai Masuk Strategi Nasional

Analis Verisk Maplecroft Hamish Kinnear mengatakan Haftar dapat mencalonkan diri dalam pemilihan presiden atau mendukung seorang kandidat.

Namun, jika pemilihan presiden dan legislatif ditunda setelah Desember 2021, Haftar kemungkinan akan menggunakan ini untuk menuduh pemerintah transisi tidak sah.

Bahkan, mempertimbangkan kembalinya konflik bersenjata, kata Kinnear.

Namun, Haftar tidak lagi sekuat dulu, ujarnya.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved