Breaking News:

Jurnalisme Warga

Melawat ke Dayah Buket Eqra Al Haramen Meulaboh

Di sepanjang pantai air laut dengan gagahnya menghantam tembok-tembok tepian pantai yang dibentengi oleh gugusan batu gajah

Melawat ke Dayah Buket Eqra Al Haramen Meulaboh
FOR SERAMBINEWS.COM
RIRI ISTHAFA NAJMI, Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe), Sekum Generasi Aceh Peduli (GAP), dan Pengurus Yayasan Elmasudy Aceh, melaporkan dari Meulaboh

OLEH RIRI ISTHAFA NAJMI, Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe), Sekum Generasi Aceh Peduli (GAP), dan Pengurus Yayasan Elmasudy Aceh, melaporkan dari Meulaboh

Minggu pagi, 30 Mei 2021, Kota Tapaktuan, Aceh Selatan, diguyur hujan lebat. Di sepanjang pantai air laut dengan gagahnya menghantam tembok-tembok tepian pantai yang dibentengi oleh gugusan batu gajah.

Guyuran hujan sejak kemarin tak henti-hentinya tatkala kami berada di hotel yang berada di kaki Gunung Paralung Tapaktuan. Hotel itu bernama Dian Rana. Sejak empat lalu kami tiap hari ikut Pelatihan dan Bimbingan Teknis Pengaderan Ulama Muda Sekretariat Majelis Pemusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Selatan 2021 yang diselenggarakan di hotel itu oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh Selatan. Pelatihan yang dimulai 26 Mei itu berlangsung hingga 15 Juni 2021.

Di tengah hujan yang begitu deras, tepatnya pukul 09.00 WIB, saya bersama para kerabat, yaitu Ketua Umum Forum Ukhuwah Aceh Selatan (FUAS), Tgk M Ridho Agung; Ketua Umum Gerakan Pemuda Subuh (GPS) Aceh Selatan, Tgk Wanhar As-Salatany; dan Humas Majelis Mahabbah Rasulullah (MMR), Tgk M Irhamuddin bergabung dengan Pak Indra Hidayat (Kadis Syariat Islam Aceh Selatan) dan Tgk Syifauddin Azka (Pembina MMR).

Mereka sudah menunggu kami untuk melawat ke dayah pimpinan Drs Tgk Harmen Nuriqmar SS yang dikenal dengan julukan Abu Meulaboh. Dia pemimpin Dayah Buket Eqra, Gampong Tumpok Ladang Pasie, Kaway XVI, Aceh Barat.

Seusai sarapan di Dian Rana, kami langsung bergerak melakukan wisata religi. Lawatan kami kali ini dalam rangka silaturahmi dan studi banding tentang kurikulum, sistem belajar-mengajar, dan infrastruktur kedayahan di Aceh.

Minggu menjelang siang, kami mulai lawatan dari Tapaktuan menuju Meulaboh. Kami berenam naik mobil Avanza. Jarak tempuhnya sekitar 210 km dan butuh waktu perjalanan lima jam.

Kami targetkan dalam lawatan ini kami bisa balik pada malam hari. Dayah yang hendak kami kunjungi ini berada di puncak perbukitan dengan arsitektur modern khas Aceh, berada di tengah alam bebas. Di bawahnya mengalir sungai-sungai yang bening.

Alhamdulillah, perjalanan kami sejauh 210 km disuguhi keindahan alam yang hijau, rimbun, dan asri. Hamparan pantai sejauh mata memandang dan birunya air laut dengan ombak yang tenang menjadi penyejuk mata apabila kami menoleh ke kiri. Sedangkan di sebelah kanan, berbaris bukit-bukit dengan pohonnya yang menghijau dan menjulang tinggi.

Sepanjang perjalanan, saya sesekali tertidur. Tapi terjaga saat mendengarkan diskusi ilmu dan interliterasi dengan orang-orang alim di dalam mobil. Memang beda apabila mendengarkan orang-orang yang alim bercerita tentang cita-cita, hajatan, dan amalan yang hendak dicapai tatkala kami melakukan lawatan sembari studi banding ke Dayah Buket Eqra' Meulaboh itu.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved