Breaking News:

Opini

Pencegahan Tsunami Covid-19

Wabah menular Covid-19 yang sudah merebak sejak awal tahun 2020 di Aceh belum terselesaikan bahkan kelihatan cenderung semakin parah

Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Dosen Prodi Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala 

Oleh Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Dosen Prodi Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala

Wabah menular Covid-19 yang sudah merebak sejak awal tahun 2020 di Aceh belum terselesaikan bahkan kelihatan cenderung semakin parah. Padahal kita sudah dikabarkan dengan adanya varian baru (B117, B1351, dan B1617) dari virus ini yang lebih ganas.

Kenapa hal ini bisa terjadi di era ilmu pengetahuan dan teknologi? Tidak lain adalah karena kelemahan kita dalam menegakkan protokol kesehatan, keabaian kita tentang keberadaan virus ini, pertimbangan Pemerintah yang lamban karena sarat unsur politik, inovasi yang rendah untuk mitigasi yang komprehensif, belenggu adat yang membuat kita terus membentuk kerumunan, dan sikap antitesis yang terus dipelihara terutama oleh tokoh-tokoh masyarakat.

Pascalebaran, angka terkonfirmasi positif harian meningkat di atas angka 100, dan dalam dua hari terakhir yaitu 27/05/2021 dan 28/05/2021 angka terkonfirmasi sudah mencapai 200 kasus baru per hari. Kesimpulannya adalah bahwa kondisi masyarakat kita semakin memburuk karena angka pasien Covid-19 yang tidak terkonfirmasi sudah tentu jauh lebih banyak dari yang telah terkonfirmasi.

Lalu apa yang akan terjadi kalau keadaan ini tidak segera diperbaiki? Maka seperti kasus yang telah terjadi di New Delhi beberapa waktu lalu, korban berjatuhan di mana-mana, rumah sakit tidak dapat menampung angka pasien yang membludak, penularan otomatis mengganas, dan pembakaran mayat harus dilakukan di pinggir jalan.

Kita tentu masih ingat dengan bencana tsunami 2004 yang telah mengambil ratusan ribu korban jiwa dengan sisa yang masih hidup dalam trauma, dalam keadaan yang tidak fit, dan dalam keadaan papa kedana. Lalu sumber daya manusia yang masih hidup tidak sanggup

menguburkan jasad yang sangat banyak sehingga akhirnya digali kuburan massal dengan alat berat, dan semua jasad disatukan saja dalam satu lubang.

Akankah keadaan ini berulang kembali? Na'uzubillahimin zaalik. Namun, apabila kita abai dengan iman dan ilmu, maka dapat diprediksikan bahwa tsunami Covid-19 akan menghantam kita dalam waktu dekat.

Masih ada waktu bagi kita semua untuk mencegah terjadinya tsunami covid-19. Cara pertama adalah dengan memperbaiki sikap kita sesuai dengan ilmu pengetahuan, kita wajib membaca tentang Covid-19 yaitu tentang cara penularan dan pencegahannya. Kedua kita harus menggunakan teori agama, terutama dalil hadits dari Nabi Muhammada SAW bahwa kita wajib melakukan isolasi diri selama wabah menular terjadi.

Saling berkunjungan dalam masa wabah adalah suatu tindakan membunuh, baik diri sendiri maupun orang lain, sehingga kita bisa dengan tegas mematuhi protokol kesehatan dan membuang belenggu adat istiadat untuk sementara waktu. Ketiga, Pemerintah dan perguruan tinggi harus lebih tegas dan bertindak cepat menerapkan lock down, menerapkan pembelajaran daring dan larangan membuat kerumunan dalam bentuk apapun yang disertai sanksi bagi yang melanggar dengan dukungan aparat keamanan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved