Breaking News:

75 Persen Orang Tua Ingin Belajar Tatap Muka, Pembelajaran Daring Turunkan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan survei yang dilakukan PGRI, 78 persen guru dan 75 persen orang tua murid ternyata ingin pembelajaran tatap muka segera diselenggarakan.

Editor: Said Kamaruzzaman
Haba Aneuk | Suparta Arz
belajar tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan 

Kendati ada data yang menunjukkan 54 persen sekolah sudah siap melaksanakan pembelajaran tatap muka, namun faktanya juga masih ada sisanya yang belum siap.

Oleh karena itu menurut Dudung perlu ada diskusi lebih lanjut dengan berbagai stakeholder pendidikan seperti Pemerintah Daerah, termasuk Satgas Covid-19 sebagai otoritas yang dapat menentukan apakah daerah-daerah sudah diperkenankan menyelenggarakan kegiatan PTM.

Baca juga: Proses Belajar Mengajar Tatap Muka di Tengah Pandemi Masih Tetap Berlangsung di Aceh Barat

Baca juga: Bireuen Bolehkan Belajar Tatap Muka

"Semua harus bersuara mencari solusi terbaik terkait dengan pandemi. Tapi bukan berarti yang baik adalah yang menolak PTM, tapi bagaimana PTM ini sehingga baik prosesnya dan hasilnya," kata Dudung.

Hasil Belajar Menurun
Dalam diskusi yang sama Wakil Sekjen PB PGRI Jejen Musfah mengatakan berdasarkan riset yang dilakukan Kemendikbudristek, pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat hasil belajar siswa menurun. Salah satu penyebabnya belum meratanya jaringan internet di belasan ribu daerah.

"Riset Kemendikbud menyatakan PJJ itu mengakibatkan penurunan hasil belajar siswa, ini nasional risetnya. Kenapa? Sangat pantas karena masih ada 12.548 daerah yang blank spot internet. PJJ itu gimana kalau nggak ada internet, anak-anak naik ke gunung, naik ke pohon, dan lain-lain mencari titik yang ada itunya," kata Jejen.

Baca juga: Belajar Tatap Muka Disetop, Kasus Covid-19 Meningkat

Selain kendala jaringan internet, Jejen mengatakan kendala selanjutnya adalah soal literasi digital. Menurutnya, tidak semua guru memiliki kemampuan menyampaikan materi pembelajaran secara digital.

"Belum lagi soal kapasitas dan literasi digital guru, mungkin internet ada, tapi guru mungkin tidak semua punya kapasitas menyampaikan pengetahuan dengan cara PJJ," ujarnya.

Jejen juga menuturkan tidak semua orang tua siap mendampingi anaknya belajar di rumah. Dia menyebut, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait PJJ menunjukkan bahwa orang tua lebih galak dari guru saat sedang mengajar. "Ternyata nggak gampang mendampingi anak belajar," tuturnya.

Lebih lanjut Jejen mengatakan pembelajaran tatap muka (PTM) harus dijalankan demi menutupi kekurangan PJJ. Apabila dalam praktiknya ada yang terkonfirmasi positif Covid-19, kata Jejen, wajib menjalani isolasi mandiri selama dua pekan.

"Harus jalan (PTM) demi menutupi kelemahan pada PJJ, tapi seandainya ditemukan kasus, harus bersedia isolasi 14 hari kemudian buka lagi ada lagi isolasi dan seterusnya," imbuhnya.(tribun network/ras/dod)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved