Breaking News:

Opini

Hukum Adat, Menanti Peran Wali

Diksi hukom dinisbatkan pada bidang syariat (agama), diksi adat ditakrifkan pada peraturan di luar syariat

Editor: bakri
Hukum Adat, Menanti Peran Wali
IST
Herman RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala, Mitra Bestari Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh

Oleh Herman RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala, Mitra Bestari Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh

Meulangga hukom raya akibat, meulangga adat malee bak donya. Begitulah hadih maja yang menjadi filosofi pelaksanaan sanksi (hukuman) dalam masyarakat Aceh. Dalam ungkapan lain disebutkan hukom ngon adat lage zat ngon sifeut.

Diksi hukom dinisbatkan pada bidang syariat (agama), diksi adat ditakrifkan pada peraturan di luar syariat. Keduanya-adat dan syariat-hidup di Aceh sebagai sebuah satu kesatuan, tamsil dua sisi mata uang. Dalam pelaksanaannya, melanggar peraturan agamasanksinya sangat besar, yakni neraka sehingga muncul frasa raya akibat. Melanggar peraturan adat sanksinya efek jera sehingga muncul frasa malee bak donya.

Hadih maja ini telah runtuh oleh zaman, telah pupus oleh undang-undang konvensional, telah raib oleh Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hampir setiap hari tersiar di media, banyak orang dilaporkan ke polisi karena kesalahan tertentu. Si terlapor diseret ke meja hijau dan berujung masuk penjara. Penjara seakan menjadi pilihan mutlak dalam menghukum seseorang.

Bayangkan saja, seorang ibu di Aceh Utara pada Februari lalu harus mendekam di penjara, menyusui anaknya yang baru berusia enam bulan di bui. Ia divonis melanggar UU ITE atas laporan seorang kepala gampong (geuchik). Di mana nurani seorang pemimpin, anggota dewan, dan manusia di Aceh yang katanya sangat menghargai para perempuan, tetapi membiarkan seorang ibu harus menyusui bayi yang baru beberapa bulan di penjara?

Apa yang terjadi setelah keluarnya si ibu dan si bayi dari penjara? Salahkah orang kampung bila kelak memanggil si bayi dengan julukan `anak penjara'? Baru-baru ini seorang anak di bawah umur dijerat lehernya dengan nilon, diikat tangannya, dan diseret layaknya binatang. Kesalahan si gam itu karena mencuri celengan masjid untuk makan. Orang tuanya sedang sakit. Masyarakat sekitar, terutama orang-orang yang telah menjerat anak itu dengan tali malah tertawa, menjadikan hal itu sebagai tontonan.

Mereka tidak pernah berpikir bahwa di kampungnya masih ada anak yang terpaksa mencuri karena butuh makan.

Tidak lama berselang, seorang bocah lainnya dipaksa mengaku mencuri celengan masjid hingga lima kali. Dalam video yang viral pada 31 Mei 2021 itu, si gam yang tidak berdaya itu ditodong senjata oleh oknum polisi berpakaian preman, lalu terdengar pemuda lainnya meneriaki "tembak saja kaki anak itu".

Meskipun si anak bersikeras mengatakan ia baru melakukan kajahatan tersebut satu kali, tetap saja orang-orang di sekitarnya memaksa si anak harus mengakui perbuatannya lima kali. Pantaskah perlakuan tersebut?

Inilah kasus-kasus sosial di sekitar kita, di Aceh yang katanya negeri syariat, negeri beradat, negeri kaya dan daerah modal, negeri yang memiliki wali nanggroe sebagai simbol penegakan hukum adat. Betapa mirisnya pengetahuan tradisional (kearifan lokal) orang-orang di negeri ini. Betapa sakitnya pelaksanaan hukuman di tanah para aulia ini. Tatkala yang kedapatan melakukan kejahatan adalah seorang bocah, dia dibuli, diikat, diseret, diancam, dan tidak tertutup kemungkinan dibawa ke kantor polisi.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved