Breaking News:

Opini

Kerak Peradaban

Peradaban apa yang kita punya ketika melihat kejadian ini? MF anak berusia 13 tahun, anak Gampong Rawa Itek, Jambo Aye, Aceh Utara harus dihukum

Kerak Peradaban
IST
Teuku Kemal Fasya, Antropolog Universitas Malikussaleh

Oleh Teuku Kemal Fasya, Antropolog Universitas Malikussaleh

Peradaban apa yang kita punya ketika melihat kejadian ini? MF anak berusia 13 tahun, anak Gampong Rawa Itek, Jambo Aye, Aceh Utara harus dihukum laksana perampok atau pembunuh keji.

Orang-orang tua di sekelilingnya ikut menampar dan menghinanya dan membiarkannya dia lehernya diikat tali. Seorang oknum polisi bahkan menodongkan pistol ke bocah broken home itu. Padahal kejahatannya hanya mencuri uang celengan mesjid.

Kebudayaan seperti apa yang dimiliki masyarakat kita? Seorang pemuda melakukan sodomi terhadap anak laki-laki berusia delapan tahun di Islamic Centre, Lhokseumawe. Kasus ini muncul di pemberitaan dan sekelebat hilang begitu saja, seolah-olah lembar-lembar fakta itu tidak bisa berbicara banyak dalam alam wacana publik.

Puncak yang tenggelam

Dengan mudah kita melarikan ruang percakapan bahwa kasus ini adalah kasus biasa saja. Padahal kasus ini adalah puncak gunung es, yang sebagian besar tenggelam di titik padangan ambang lautan. Apa yang dilihat dari kasus mewakili buruknya wajah peradaban harian kita terhadap anak-anak dan perempuan; dua entitas yang selalu berada di dalam lingkaran sosial-kultural, tapi tidak pernah diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Perlakuan kita kepada anak sudah berubah, seturut berubahnya poros keluarga di era modern yang serba informasi dan digital ini. Masih teringat di benak, bagaimana ketika bocah, penulis pernah melakukan keributan di bulan puasa dengan membakar petasan atau meriam bambu di pagi hari. Kemudian datang tetangga menasihati bahwa tindakan itu menganggu orang ibadah dan tidur setelah subuh.

Mata tetangga itu masih terekam dalam ingatan. Ia memberikan nasihat dengan muka penuh senyum dan hasrat menyayangi laksana anaknya sendiri. Tidak ada api amarah yang memuncak, seolah-olah kami anak bandel yang menganggu masyarakat. Selaksa kemudian kami menghentikan permainan dan mencari permainan lain yang tidak bising.

Seperti anak-anak lainnya, kami juga pernah mencuri kecil-kecilan, mangga atau ikan hias tetangga. Ketika ketahuan, ada rasa menyesal yang bergunung-gunung. Untungnya sang tetangga tidak pernah menyimpan dendam. Dalam hitungan hari mereka sudah lupakan kejadian itu dan memperlakukan kami seperti anak lainnya. Bahkan mereka ikut memantau pertumbuhan penulis kelak dan memuji berprestasi yang berhasil diraih, apalagi ketika penulis melanjutkan pendidikan di pesantren dan tidak larut dalam kenakalan remaja yang menjurus kriminal seperti narkoba dan pencurian berat.

Tapi apa yang dilakukan oleh orang tua saat ini? Dengan mudah anak-anak dan perempuan dinistakan. Dalam memori harian kita tak jarang melihat perlakuan kasar kepada anak dan perempuan, dan kita tak menegahnya dengan alasan bukan masalah kita. Padahal anak dan perempuan dan konteks hukum sekarang bukan semata objek rumah tangga. Kekerasan di dalam rumah tangga tidak bisa dianggap sebagai perilaku imun keluarga atau alasan domestifikasi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved