Breaking News:

Salam

Terjadi Lagi, Kekerasan di Lembaga Pendidikan

Kekerasan di lembaga pendidikan kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang santri asal Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang

Editor: bakri
Dok Keluarga
Sejumlah santri yang mengetahui terjadinya penganiayaan hingga menyebabkan FWA meninggal, dikumpulkan petugas pada Sabtu (5/6/2021) malam. 

Kekerasan di lembaga pendidikan kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang santri asal Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang. Sang santri yang masih berusia 14 tahun  meninggal dunia setelah sebelumnya diduga mengalami penganiayaan oleh seniornya di sebuah pesantren kawasan Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Sabtu (5/6/2021) malam. Dan, polisi sudah menetapkan seorang senior sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan yang menghilangkan nyawa korbannya.

Menurut laporan, pada jasad korban terlihat luka seperti bekas cekikan di lehar dan bagian kedua bahu membiru. Karena itulah, ibu si korban yakin betul anaknya meninggal karena penganiayaan oleh seniornya. Apalagi, sang ibu mendapat ketarangan bahwa pada malam itu korban bersama delapan temannya dipanggil oleh sekira enam seniornya ke aula. “Anak saya yang pertama dipukul, langsung jatuh tidak sadarkan diri.”

Sang ibu mengaku mendapatkan informasi ini dari salah satu teman korban yang turut menjadi korban pemukulan malam itu. “Kejadiannya jam 10 malam, kami menanyakan ke pengelola pesantren mengapa jam 10 malam anak‑anak bisa bebas berada di luar.”

Ayah korban, menegaskan pihaknya meminta yayasan pesantren tersebut bertanggung jawab dan berharap kasus ini ditangani polisi sampai tuntas. “Saya menitipkan anak saya di pesantren untuk dibina mendapat akhlak baik, tapi kok kejadiannya malah seperti ini?”

Ya, sebagaimana diharapkan orang tua korban, kita semua setuju bahwa kasus ini harus diproses secara hukum hingga tuntas. Artinya, pihak kepolisian di lokasi kejadian harus menyidik kasus ini hingga bisa sampai ke maja hijau. Sebab, orangtua korban sangat menginginkan keadilan walau nyawa putranya tak mungkin kembali lagi.

Kita ingin memberi catatan bahwa kekerasan semacam itu bukan hanya terjadi di lingkungan pesantren, tapi juga sudah sering terjadi di lembaga-lembaga pendidikan lain. Dan, umumnya memang terjadi pada lembaga pendidikan yang anak didiknya diasramakan (boarding).

Sayangnya, memutus mata rantai kekerasan di lembaga pendidikan dan pelatihan tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua pihak butuh untuk ikut bekerja sama memberantas kekerasan tersebut, mulai dari pihak sekolah, murid, orang tua, masyarakat hingga pemerintah.

Seorang pengelola lembaga pendidikan berasrama beberapa tahun lalu menuliskan, “Kasus tewasnya siswa di SMA Taruna Nusantara, dan tak terhitung kasus yang menjerat siswa, guru, dan orangtua dalam perilaku kekerasan, serta perlakuan kasar kakak kelas terhadap adik kelas saat proses penerimaan siswa baru, ialah contoh buruk betapa dunia pendidikan seolah tak mampu menghindari dan sekaligus melawan kekerasan.”

Dan, simpulnya, “ Membangun komitmen pendidikan damai, dengan demikian, ialah kata kunci yang harus dilakukan komunitas sekolah dalam rangka merancang bangunan resolusi konflik yang memadai di lingkungan sekolah agar anak‑anak kita terhindar dari semua perilaku kasar dan keras di kemudian hari seperti yang kita lihat hari‑hari terakhir ini. Secara integratif, pendekatan terstruktur di dalam sekolah merupakan sebuah keniscayaan karena ini berarti sekolah sedang secara serius memikirkan mekanisme konflik dan penanganan kekerasan secara integratif. Dalam terminologi Willam De Jong dari Harvard School of Public Health (2003) 'the best school‑based violence prevention programs seek to do more than reach the individual child. They instead try to change the total school environment, to create a safe community that lives by a credo of non‑violence'. Dengan praktik tak ada kekerasan di sekolah, baik guru maupun siswa harus berusaha menghindarkan diri dari kebiasaan buruk berlaku kasar pada saat mengajar maupun belajar di lingkungan sekolah. Kredo tentang asas nirkekerasan ini merupakan disiplin serius yang harus ditegakkan seluruh sekolah kita.”

Dan, karenanya, kita ingin mengingatkan bahwa UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved