Breaking News:

Salam

Soal Haji Harus Jelas dan Tegas

KEPALA Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Anggito Abimanyu, menjelaskan, sebagai lembaga negara, BPKH sudah rutin diaudit

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
ANGGITO ABIMANYU 

KEPALA Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Anggito Abimanyu, menjelaskan, sebagai lembaga negara, BPKH sudah rutin diaudit. "Dana haji selalu diaudit BPK. Kebetulan mulai 2017, 2018, sampai sekarang, diaudit oleh BPK, baik itu audit tahunan maupun audit se- mester. Ada juga audit khusus," tutur Anggito.

Pada tahun 2018 sampai 2019, hasil Laporan Keuangan (LK) BPKH dinyatakan wajar tanpa pengecualian (WTP). Kemudian LK ta- hun 2020 sedang dalam proses audit (unaudited). Anggito mengung- kapkan, dana haji per Mei 2021 sebesar Rp 15 triliun. Dana terse- but dipastikan aman dan tidak pernah digunakan untuk investasi yang berpotensi merugikan.

Dana Haji milik jamaah dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Sim- panan), jadi terlindungi dari gagal bayar. Ini mengacu pada Surat LPS Nomor S-001/DK01/15 Januari 2020, yang mengatakan bahwa dana haji itu meskipun ditempatkan atas nama BPKH dengan nama jama- ah. Tetap dijamin oleh LPS terhadap individu. Jadi, masing-masing dana tersebut atas nama jamaah itu dijamin oleh LPS. "Kami menyatakan (dana haji) tetap aman.

Tidak ada utang akomo- dasi ke Arab Saudi, tidak ada alokasi investasi di infrastruktur yang tentu banyak yang mengintepretasikan bahwa ini akan berisiko tinggi untuk dana haji," tutur Anggito. Itulah antara lain penegasan penting dari BPKH menjawab berbagai spekulasi liar di ruang publik terkait pengelolaan dana haji. Tiga hari terakhir, muncul #DanaHajiDiaudit yang membanjiri media sosial Twit- ter.

Muncul juga dugaan dana haji dimanfaatkan untuk investasi infra- struktur, serta ada dugaan badan pengelola dana haji memiliki utang akomodasi perjalanan ibadah haji pada Arab Saudi. Berbagai spekula- si liar ini muncul setelah pemerintah memutuskan tidak memberang- katkan jamaah haji Indonesia pada tahun 1442 H/2021 M. Kebijak- an itu tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 660 Tahun 2021. Publik Indonesia "gerah" dan ragu atas keputusan ter- sebut.

Mereka lantas mempertanyakan pengelolaan dana haji oleh pemerintah, "Dana haji ditilep, disimpan, diinvestasikan, atau dike- manakan?" Begitulah “gugatan” atau gunjingan di ruang publik, teru- tama di media sosial. Di sisi lain, pembatalan pemberangkatan jamaah calon haji dalam dua tahun terakhir ini membuat daftar antrean menjadi semakin pan- jang. Untuk itu, pemerintah mengaku tengah menyiapkan regulasi guna memperpendek antrean tersebut.

Saat ini, antrean jamaah haji Indonesia mencapai 5.017.000 orang. Sedangkan setiap tahun Indo- nesia mendapat jatah kuota sekitar 220.000 orang. Jadi jika per ta- hun kuota haji Indonesia misalkan tetap 220.000 orang, setidaknya memerlukan waktu 22 tahun. Provinsi Aceh yang memiliki pengantri sekitar 127.000 orang. Dengan kuota pertahun rata-rata 4.000-an orang, maka masa tunggunya sudah mencapai 30 tahun, jauh mele- bihi masa tunggu nasional. Lalu, apa upaya pemerintah terhadap hal itu? Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jendral Haji dan Umrah Kementerian Agama, Khoirizi, mengatakan, salah satu kebijakan yang akan diambil adalah dengan melakukan pembatasan usia pendaftaran jamaah.

Salah satu kebi- jakan yang akan diambil adalah membatasi usia pendaftaran minimal 18 tahun. Pemerintah juga mendorong agar Arab Saudi segera me- ningkatkan sarana prasarana di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Selain itu, Pemerintah mestinya mepertegas sikap mengenai ke- sempatan berhaji. Dalam kondisi sekarang mestinya Pemerintah ha- nya memberi kesempatan bagi para calon jamaah yang belum pernah berhaji. Sedangkan calon-calon yang sudah pernah berhaji mestinya tidak diberi kesempatan lagi untuk ikut paket haji reguler. Mereka hanya diberi kesempatan melalui haji khusus atau haji plus. Sebab, yang naik haji berulang-ulang itu umumnya kaum berduit.

Ini bukan soal sah dan tidak sah, juga bukan soal hak dan bukan hak, tapi tapi demi memberi kesempatan kepada kaum muslim dan musli- mah lain yang sangat ingin naik haji. Mereka menabung bertahun. Ada yang menabung puluhan tahun demi bisa naik haji. Tapi, ketika biayanya cukup, mareka masih harus menunggu lagi belasan tahun. Maka, orang- orang yang sudah pernah berhaji, berilah kesempatan kepada yang be- lum pernah. Jangan persulit kesempatan mereka.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved