Breaking News:

Opini

Islam dan"Clash" Peradaban

Dewasa ini barat telah mencapai puncak peradaban tinggi, meluncurnya akal pikiran ke cakrawala kehidupan alam wujud ini, telah berhasil mengadakan

Munawar A. Djalil, Pegiat Dakwah dan PNS Pememrintah Aceh, Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh 

Oleh Munawar A. Djalil, Pegiat Dakwah dan PNS Pememrintah Aceh, Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

Dewasa ini barat telah mencapai puncak peradaban tinggi, meluncurnya akal pikiran ke cakrawala kehidupan alam wujud ini, telah berhasil mengadakan penyelidikan dan pengamatan sedemikian jauhnya sehingga dapat mempelajari dan menyingkapkan selubung yang sekian lamanya menutupi rahasia-rahasia alam.

Penemuan-penemuan pesat dan cemerlang di bidang ilmu pengetahuan, tidak diragukan lagi menempati kedudukan tinggi dalam lembaran kehidupan sejarah, akan tetapi mau tidak mau kita terpaksa harus bertanya kepada diri kita: Apakah peradaban yang dibawa oleh orang-orang barat yang bergerak cepat sekarang ini, berdiri di atas landasan untuk meningkatkan semua aspek kehidupan manusia?

Ataukah hanya peningkatan beberapa segi saja? Yang jelas adalah bahwa peradaban tersebut tidak seluruhnya baik dan tidak seluruhnya serba menguntungkan. Ada yang sedab dan ada yang menjijikkan, ada yang bermanfaat, dan ada pula yang berbahaya.

Dalam peradaban barat (modern) terdapat lebih kurang empat jurang yang berbahaya yang mesti diwaspadai: Pertama, Peradaban barat terlampau berlebih-lebihan dalam memuja ilmu pengetahuan sehingga tidak kenal batas. Ia memutuskan ikatan yang menghubungkan manusia

dengan pencipta dan memandang alat/sarana di atas segala-galanya. Peradaban modern telah menghancurkan kepribadian manusia dan membuatnya sejajar dengan pekakas serta membuat manusia tunduk kepada pengarahan yang diberikan oleh pers, radio, dan berbagai macam-macam mass media lainnya.

Ia melemahkan ikatan individu dengan keluarganya, hubungan desa dengan kota dan menggantikannya dengan ikatan-ikatan baru yang didasarkan kepentingan dan selera, seperti ikatan kepartaian, serikat kerja, pertumbuhan olahraga, kesenian, dan sebagainya.

Kedua, Peradaban barat sangat berbau fanatisme Eropa yang berkulit putih, walaupun orang Eropa selalu meneriakan slogan: semua manusia sama dan bersaudara, tak ada perbedaan perlakuan berdasarkan perbedaan ras, warna kulit, dan agama.

Ketiga, Membuat manusia lain mengabdi kepada manusia Eropa. Prinsip inilah yang merupakan dorongan utama yang menyebabkan pecahnya dua kali Perang Dunia (PD). Negara-negara Eropa yang saling berperang membagi-bagi hasil peperangan di antara sesama mereka sendiri setelah perang selesai. Mereka memperoleh pasaran-pasaran baru bagi barang-barang industrinya dan mendapatkan sumber-sumber bahan mentah serta tenaga manusia yang luar biasa besarnya di bawah kekuasaan dan pengawasan mereka.

Keempat, Peradaban modern telah tenggelam dalam satu sikap hidup yang menghalalkan segala macam moral dan pelanggaran nilai-nilai luhur, melucuti manusia dari kepribadian, tradisinya dan dari kewajiban-kewajiban mulia serta menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Ini merupakan suatu realita yang membuat para cendikiawan dan para ahli pikir barat sendiri terpaksa berteriak karena mereka melihat adanya benturan (clash) besar dan bencana yang akan menimpa seluruh umat manusia.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved