Breaking News:

Jurnalisme Warga

Bale Tambeh, Wadah Belajar Kitab Jawi Bahasa Aceh

Balai kecil di sudut pekarangan rumah, saya beri nama Bale Tambeh. Tambeh, yakni tanbihun dari bahasa Arab

Editor: bakri
Bale Tambeh, Wadah Belajar Kitab Jawi Bahasa Aceh
IST
T.A. SAKTI,  penerima Anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Republik Indonesia yang disematkan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri di Istana Negara Jakarta, 14 Agustus 2003, melaporkan dari Tanjung Selamat, Aceh Besar

OLEH T.A. SAKTI,  penerima Anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Republik Indonesia yang disematkan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri di Istana Negara Jakarta, 14 Agustus 2003, melaporkan dari Tanjung Selamat, Aceh Besar

Balai kecil di sudut pekarangan rumah, saya beri nama Bale Tambeh. Tambeh, yakni tanbihun dari bahasa Arab, bisa bermakna: peringatan, tuntunan, atau catatan. Sedangkan dalam belantara sastra Aceh, kata “tambeh” merupakan jenis sastra Aceh yang bermuatan mengenai agama Islam.

Balai berukuran 2x1,40 meter itu berdiri tahun 2005, pascatsunami. Kayunya merupakan hibah dari sahabat dan tetangga saya, Cut Baka, di Desa Tanjung Selamat. Beliau mengumpulkan sejumlah kayu yang dihanyutkan air tsunami, kemudian disumbangkan sebagiannya kepada saya.

Pada awalnya bale tersebut saya fungsikan sebagai tempat menerima tamu. Tamu saya mayoritas mahasiswa saya sendiri, peminat budaya, atau mahasiswa dari kampus lain yang sedang menyusun tugas akhir, skripsi, tesis, dan disertasi yang terkait sastra dan budaya Aceh.

Ada pula tamu dari kalangan wartawan media cetak dan pernah sekali dari media elektronik. Mereka meliput kegiatan saya sehari-hari terkait manuskrip dan sastra Aceh.

Seiring waktu, fungsi Bale Tambeh terus meluas, lebih dari sekadar tempat menerima tamu. Di Bale Tambeh, seniman Aceh Medya Hus pernah membuat video untuk channel Youtubenya.  Saat itu saya didampingi penyair Abrar sedang membaca Tambeh Tujoh Blah tentang hidup berjiran atau bertetangga.

Suatu kali saya membaca satu manuskrip yang baru dibawa pulang oleh dr Nabil Berry dari Perpustakaan Nasional, Jakarta. Tanpa saya sadari, rupanya pembacaan kitab karya Syekh Muhammad Said bin Abbas Kruengkale itu direkamnya. Rekaman itu sampai kini masih eksis di dunia maya. Tahun 2011, Bale Tambeh pernah disemarakkan dengan pembacaan nazam dan cae oleh Teungku Ismail alias Cut ‘E dan Medya Hus. Sayangnya, acara malam itu kurang lancar karena turun hujan lebat.

Kemudian, awal tahun 2013, di Bale Tambeh pernah saya gelar diskusi dan kajian sastra Aceh. Banyak tokoh sastra dan akademisi saya hubungi untuk bersedia jadi narasumber dan peserta. Tak lama kemudian, saya disibukkan dengan tugas memberi kuliah dan berkuliah karena saya menjadi mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Otomatis, berhentilah kegiatan itu.

Tahun 1439 H/2018  menguat  gagasan untuk mengadakan pengajian kitab huruf Jawi-Jawoe bahasa Aceh. Sebenarnya, ini ide yang lama terpendam. Dorongan dari teman-teman membuatnya muncul ke permukaan. Dalam pembicaraan bersama teman, kami memilih kitab Akhbarul Karim karya Teungku Seumatang sebagai kitab jawoe rujukan pertama. Akhbarul Karim merupakan kitab jawoe yang poluler pada masanya, masih banyak dipelajari orang pada era 1960-an. Saya telah akrab dengan kitab tersebut sejak kecil dan mempunyai kesan mendalam.

Mengapa kitab Jawi bahasa Aceh yang dipelajari? Berdasarkan pengalaman mengajar di kampus, tulisan Arab Melayu diajarkan dalam perkuliahan tempat saya mengajar. Sedangkan tulisan Jawi bahasa Aceh masih asing bagi kebanyakan orang. Arab Melayu saja tidak banyak yang paham, apalagi tulisan Jawi Aceh. Saya bermaksud memasyarakatkan kembali tulisan Jawi bahasa Aceh.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved