Breaking News:

Jurnalisme Warga

Bale Tambeh, Wadah Belajar Kitab Jawi Bahasa Aceh

Balai kecil di sudut pekarangan rumah, saya beri nama Bale Tambeh. Tambeh, yakni tanbihun dari bahasa Arab

Editor: bakri
Bale Tambeh, Wadah Belajar Kitab Jawi Bahasa Aceh
IST
T.A. SAKTI,  penerima Anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Republik Indonesia yang disematkan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri di Istana Negara Jakarta, 14 Agustus 2003, melaporkan dari Tanjung Selamat, Aceh Besar

Hari pertama  “Meurunoe Jawoe Bahsa Aceh”( belajar huruf Jawi-Arab Melayu bahasa Aceh) di Bale Tambeh  berlangsung pada hari Ahad, 23 Beurapet  1439 atau 23 Zulkaidah 1439 H bertepatan dengan 5 Agustus 2018 pukul 17.00 WIB. Pada hari yang sama di Banda Aceh dibuka Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII.

Para peserta pengajian yang hadir pada hari pertama berjumlah sepuluh orang, yaitu saya sendiri, Muhammad Nur, M Iqbal, Teuku Jauhar, Buchari, Salmawati Aw, Irma Susanti, Abdullah Suhemat (suami Irma, asal Yordania) Siti Hajar, dan Tgk Ismail (Cut ‘E) yang sengaja diundang untuk membaca nazam Teungku Di Cucum, sebagai pembukaan, demi keberkahan.

Setelah sukses pembukaan hari pertama, saya bersama Bukhari dan Siti Hajar mengadakan diskusi kecil membahas nama untuk grup WhatsApp. Tercetus ide beberapa calon nama grup yang rumusannya kami bahas kembali pada pertemuan pengajian kedua, hari Sabtu, 11 Agustus 2018. Akhirnya, saran  M Iqbal Hafidh yang mengusulkan “Drah Aceh” bagi nama grup, kami terima secara kompak. Drah Aceh, berarti belajar mengenai Aceh yang sering diulang-ulang demi kelancarannya. Pengajian dijadwalkan berlangsung seminggu sekali pada  hari Sabtu, mulai pukul 17.00sampai pukul 18. 30 WIB.

Para peserta yang hadir di setiap pertemuan boleh dikatakan memadai untuk ukuran balai  yang kecil itu. Di atas balai hanya muat lima orang. Selebihnya duduk di kursi plastik di sekeliling balai. Pengajian di Bale Tambeh juga diikuti mahasiswa senior Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala (USK) yang mengambil mata kuliah ‘Studi Lapangan’ yang saya asuh.

Mereka saya bagi dua kelompok, mengingat kekurangan tempat duduk. Para mahasiswa saya tersebut sangat bersemangat belajar drah Aceh meskipun sebagian besar mereka tidak bisa berbahasa Aceh.

Pengajian ‘Meurunoe harah Jawoe bahsa Aceh’ berlangsung delapan bulan. Selama itu, kami telah membaca serta mengkaji kitab Akhbarul Karim sebanyak tiga kali tamat. Sesuai nama ‘Drah Aceh’, membaca berulang-ulang itu memang suatu keharusan. Setiap kali belajar, disiarkan langsung lewat situs Yyoutube Drahaceh. Sorotan gambar dan rekaman suara dilakukan rekan Iqbal Hafidh. Rekaman itu berjumlah sepuluh seri.

Sementara itu, dr Nabil Berry melakukan lobi online dengan “Lembaga bahasa-bahasa di dunia” yang berpusat di Amerika Serikat. Usulan itu diterima lembaga ‘wikitongoues’, yang menjadikan dialog bahasa Aceh di Bale Tambeh sebagai contoh percakapan dalam bahasa Aceh. Alamatnya: wikitongues Acehnese.

Pengajian di Bale Tambeh berjalan lancar dan aman sampai ditutup buat ‘sementara’ sepuluh hari menjelang bulan Ramadhan 1440 H. Hampir setahun vakum, menjelang Ramadhan 1441 H, niat melanjutkan pengajian harah Jawoe bahasa Aceh bergema kembali. Semangat saya berkobar nyaris tak dapat dibendung. Namun, pandemi Covid-19 sedang melanda dunia. Niat itu terpaksa tertunda.

Tetapi tak dinyana, semua aktivitas di Bale Tambeh harus berhenti total. Pada Kamis, 28 Ramadhan 1441 H bersamaan 21 Mei 2020, Bale Tambeh ditimpa musibah. Sekitar pukul 10.00 pagi. bale roboh akibat tak sanggup menanggung beban yang amat berat. Kayu penyangga lantai patah  dan lantai tempat duduk terbongkar. Kayunya memang sudah lama keropos dimakan rayap (kamue). Saya berbesar hati, merelakan Bale Tambeh lenyap tidak berbekas lagi.

Alhamdulillah, beberapa bulan kemudian ada hamba Allah yang tergugah dan bersedia menjadi donatur mendirikan kembali Bale Tambeh. Pada peringatan Isra Mikraj 27 Rajab 1442 H yang jatuh pada hari Kamis, 11 Maret 2021, Bale Tambeh baru ini resmi launching. Ukurannya lebih luas dan terlihat kokoh. Dapat  memuat lebih banyak orang. Saya bersama istri mengadakan syukuran kenduri apam menyambut hadirnya kembali Bale Tambeh. Saya menunggu tetamu yang akan menghidupkan Bale Tambeh dengan diskusi dan kajian tentang budaya Aceh dan manuskrip lama. Besar harapan saya pengajian meurunoe harah jawoe bahsa Aceh (Drah Aceh) dapat segera berlangsung kembali. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved