Breaking News:

Salam

Pemkab & Pemko Harus Tegas Tegakkan Protkes

harian Serambi Indonesia edisi Ahad (13/6/2021) kemarin ditandai dengan sejumlah berita yang menunjukkan ketegasan

Editor: hasyim
Serambinews.com
Satgas Covid-19 Kota Banda Aceh, gencarkan razia protokol kesehatan (Protkes) Covid-19 terhadap pengguna jalan di depan Masjid Raya Baiturahman, Jumat (28/5/2021) 

harian Serambi Indonesia edisi Ahad (13/6/2021) kemarin ditandai dengan sejumlah berita yang menunjukkan ketegasan pemerintah kabupaten (pemkab) maupun pemerintah kota (pemko) di Aceh dalam penegakan protokol kesehatan (protkes).Di Kota Banda Aceh, misalnya,terbaca kebijakan bahwa Muspika Meuraxa, Banda Aceh, kembali menutup akses masuk ke objek wisata Pantai Ulee Lheue, Sabtu (12/6/2021).

Penutupan berlanjut hingga hari Minggu (13/6/2021) kemarin. Langkah tersebut diambil dalam rangka mencegah kerumunan dan memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 di wilayah pesisir Kota Banda Aceh.Penutupan ini juga sebagai tindak lanjut dari instruksi Wali Kota dan Forkopimda Banda Aceh yang melarang kegiatan yang dapat memicu terjadinya kerumunan, mengingat Banda Aceh saat ini berstatus zona merah.

Sebelumnya, penutupan ini sudah pernah dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu lalu. Sementara itu di Aceh Singkil, Konferensi Kerja I Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) gagal terlaksana pada Sabtu (22/6/2021) dan panitia rugi belasan juta rupiah, gara-gara acara mereka tak mendapat izin dari Satgas Covid-19 Aceh Singkil. Satgas menilai, kabupaten penghasil sawit itu belum cukup kondusif untuk penyelenggaraan pertemuan selevel konferensi kerja yang otomatis menyebabkan banyak orang berkerumun dan dikhawatirkan protkes tak berjalan efektif.

Di satu sisi kita angkat salut pada ketegasan Pemko Banda Aceh menutup sementara objek wisata marina Ulee Lheue. Dan sebelumnya telah dikeluarkan larangan menggelar acara pernikahan di gedung-gedung, bahkan di rumah. Kita juga mengapresiasi ketegasan Satgas Covid-19 Aceh Singkil yang tak memberi izin pelaksanaan konferensi kerja organisasi kaum guru di sana. Cuma, berkaca ke Aceh Barat Daya (Abdya) kita tak dapati ketegasan serupa dari pemkab atau Satgas Covid-nya.

Terbukti, pada hari yang sama, Sabtu, 12 Juni 2021, di kabupaten itu tetap diberi izin berlangsungnya Musyawarah Cabang Ikatan Dokter Indonesia (Muscab IDI) Abdya. Dalam pertemuan itu terpilih dr Hessi Harfina sebagai Ketua IDI Cabang Abdya Periode 2021-2024. Cuma, ada cara kerja yang menarik yang dilakukan dalam musda ini. Namanya, metode hybrid meeting. Pembahasan dan persetujuan seluruh tata tertib dilakukan secara virtual via zoom meeting. Namun, ketika pemberian suara kepada kandidat yang didukung diberikan secara langsung. Satu per satu dari 42 dokter yang ikut musda tersebut datang ke tempat acara di Hotel Leuser untuk memberikan suaranya.

Mereka datang secara bergelombang untuk menghindari kerumunan. Dengan cara ini akhirnya, pemilihan ketua tetap bisa berlangsung dan setiap peserta disiplin dalam menjaga prokes: tetap pakai masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, jaga jarak, dan menghindari kerumunan. Sebetulnya, apa yang dipraktikkan para dokter di Abdya ini bisa dijadikan model jika ingin melaksanakan musda, rakor, atau konferensi kerja yang tak mendapat izin Satgas Covid-19 seperti yang terjadi di Aceh Singkil.

Sudah saatnya semua kita berbesar jiwa dan berlapang dada bahwa karena Covid di Aceh belum reda, bahkan semakin banyak kabupaten/kota yang menjadi zona merah atau zona oranye kembali pascalibur Lebaran Idulfitri 1442 Hijriah, maka pengaturan yang ketat bahkan represif oleh Satgas Covid-19, sangat kita maklumi. Ini semata-mata untuk menghindari kerumunan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Termasuk misalnya dengan menyegel sejumlah kafe atau warung kopi yang terang-terangan melanggar batas waktu operasional.

Banyak pihak memang berkurang omsetnya gara-gara tempat usahanya harus ditutup pukul 22.00 atau pukul 23.00 WIB, sedangkan sekarang sedang digelar Euro 2020. Biasanya warkop dan kafe akan panen rezeki melalui kegiatan nonton bareng Euro. Namun, sekali lagi, sekarang memang bukan zamannya untuk duduk lama-lama dan ramai-ramai di kafe karena di tempat seperti inilah penularan virus corona sangat rentan terjadi. Ya, apa boleh buat. Sebagian dari kita harus berkorban lagi daripada semuanya harus menjadi korban. Jangan sampai prediksi "semua akan Covid pada waktunya" benar-benar menjadi kenyataan. Jadi, kita percayakan sepenuhnya kepada bupati/wali kota bersama Forkopimda dan Satgas Covid-19 setempat untuk melakukan tindakan terbaik yang goal utamanya adalah demi kemaslahatan bersama.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved