Breaking News:

Jurnalisme Warga

Saatnya Pemajuan Kebudayaan Dimulai dari Desa

Satu bulan lalu sebelum dilaksanakan kegiatan Pemajuan Kebudayaan Indonesia, saya dihubungi oleh Pegiat Budaya Singkil, Amrul Badri

Editor: bakri
For Serambinews.com
WANHAR LINGGA, Pegiat Literasi, Wisata, Budaya, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe),  melaporkan  dari Jakarta 

OLEH WANHAR LINGGA, Pegiat Literasi, Wisata, Budaya, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe),  melaporkan  dari Jakarta

Satu bulan lalu sebelum dilaksanakan kegiatan  Pemajuan Kebudayaan Indonesia,  saya dihubungi oleh Pegiat Budaya Singkil, Amrul Badri. Beliau menginformasikan tentang adanya program dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Direktorat Jenderal Kebudayaan.  Kegiatan ini diikuti oleh 350 peserta dari seluruh Indonesia.

Kemudian, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumut melalui Essi Hermaliza, salah satu peneliti di BPNB, merekomendasikan nama saya untuk mewakili Aceh bersama 13 teman lainnya mengikuti program tersebut dan nantinya akan ditetapkan sebagai Pendamping Kebudayaan Desa yang diberi akronim Daya Desa.

Kegiatan Pemajuan Kebudayaan Indonesia ini dilaksanakan di Hotel Aston Kartika Grogol Petamburan, Jakarta Barat , tanggal 8-10 Juni 2021. Tanggal 7 Juni saya berangkat dari Singkil menuju Bandara Kualanamu Deli Serdang, Sumatera Utara.  Setiba di Jakarta kami disambut oleh panitia dari Kemendikbudristek, lalu dibawa menuju hotel untuk mengikuti seremonial pembukaan acara bersama teman-teman dari berbagai wilayah di Indonesia.

Pentingnya dari desa

Program Pemajuan Kebudayaan Indonesia merupakan program pertama yang dilaksanakan oleh Kemendikbudristek untuk memajukan kebudayaan di desa, sebab selama ini kita telanjur  menganggap bahwa warga desa tak berdaya dan lemah. Padahal, merekalah yang bekerja senyap tanpa pencitraan untuk membangkitkan potensi desa yang ujung-ujungnya berdampak untuk kemajuan negara.

Desa dalam bahasa Aceh disebut ‘gampong’ atau ‘kuta’ dalam bahasa Singkil. Gampong merupakan poros terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Gampong juga merupakan tempat utama merajut interaksi sosial.  Cikal bakal orang sukses di dunia ini bermula dari gampong  kemudian berpencar, baik dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, mencari nafkah, meningkatkan pendidikan, lalu berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Kembali ke pembahasan pemajuan kebudayaan desa. Kenapa pendamping budaya desa  harus hadir?  Karena, selama hidup di desa sebagian warga desa sering sekali tidak mengenali, bahkan tidak  sadar akan potensi budayanya dan potensi lain yang dimilikinya, maka sudah saatnyalah masyarakat desa diberikan informasi akan potensi yang berada di desa mereka masing-masing. 

Selama di Jakarta, kami mengikuti lokakarya tentang pemajuan kebudayaan desa. Berbagai narasumber  andal hadir memberikan informasi, motivasi kepada daya desa untuk dibekali agar mampu menemukan potensi-potensi desa, lalu bagaimana mengembangkan, dan tahap terakhir memanfaatkan potensi desa.

Sejatinya, pemajuan kebudayaan di desa bukan hanya tugas dari pendamping daya desa atau pegiat budaya, melainkan  juga merupakan tanggung jawab kolektif antara pemerintah pusat,  pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat desa. Jadi, sinergi antarberbagai unsur adalah kunci keberhasilan. Semua ini harus sejalan untuk mencapai kesuksesan program tersebut.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved