Breaking News:

Jurnalisme Warga

Cecah Menet, Kuliner Khas Gayo yang Berkhasiat

Gayo merupakan salah satu suku yang ada di Provinsi Aceh. Gayo sebagai daerah yang tidak hanya terkenal dengan seni budaya dan tempat wisata

Editor: bakri
Cecah Menet, Kuliner Khas Gayo yang Berkhasiat
FOR SERAMBINEWS.COM
UMI KASUM, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah

Tanpa terkecuali warga sangat meminati cecah menet ini karena rasanya sangat lumer dan lezat di mulut. Peminatnya mulai dari kalangan anak-anak sampai dengan orang tua. Cecah menet ini bukan hanya sekadar pangan, tetapi juga mempunyai khasiat untuk kesehatan.

Pangan yang terbuat dari aneka kulit batang-batang kayu dan rempah-rempah pilihan ini bisa membuang angin jenuh dari tubuh kita. Cecah ini dipercayai sebagai penghambat angin jenuh yang bisa menyebabkan sakit perut dan kembung pada perut.

Ada cerita menarik dan sangat menggelitik dari cecah menet ini sendiri. Dari dulu sampai sekarang setiap berbuka puasa ibu selalu menyediakan cecah menet ini ketika berbuka puasa. Ibu berkata bahwa cecah ini harus dimakan walau sedikit saat berbuka puasa. Di mana cecah menet ini duluan dimakan walau hanya sesuap sebalum menyentuh makanan yang lain. Biasanya cecah ini hanya disajikan di pengujung Ramadhan saja.

Menurut ibu saya, cecah menet yang dimakan ini akan menjadi saksi kita berpuasa atau tidak berpuasa saat di akhirat kelak nanti. Saya dan abang saya hanya terdiam mendengar kata-kata ibu saya sambil tersenyum kecil di dalam hati.

Bukan hanya ibu saya yang percaya akan hal ini, tetapi hampir setiap warga di kampung saya juga begitu ketika ditanya untuk apa kita memakan cecah menet. Mereka selalu bilang untuk obat sekaligus sebabagai saksi di akhirat kelak.

Dulu, sewaktu kecil, saya dan teman-teman saat bulan Rramadhan kami sering mencari batang-batang kayu, baik itu di kebun orang-orang kampung setempat maupun di perkarangan rumah warga. Kami pergi ramai-ramai dengan membawa pisau cutter satu orang satu dan membawa golok minimal dua golok. Setiap batang yang ditemukan langsung kami ambil. Walaupun terik matahari sangat menyengat kulit, tetapi kami tetap bersemangat untuk mencarinya sambil melalaikan puasa supaya tahan hingga berbuka. Biasanya kami membawa batang-batang ini dengan sangat banyak sehingga di jalan menuju rumah kami masing-masing ketika pulang kami bagikan pada orang-orang yang memintanya.   

Cecah menet ini biasanya menjadi menu berbuka puasa yang khas dan hanya tersedia saat Ramadhan tiba.

Kita berharap,dengan kepedulian dan kerja sama yang baik, kuliner khas daerah seperti cecah menet ini bisa masuk sebagi daftar kuliner khas dan bercita rasa nusantara, sehingga bukan hanya orang Gayo saja yang merasakan kelezatannya, melainkan juga warga di daerah lain di Indonesia, bahkan juga di mancanegara.

Tentu saja hal ini butuh dukungan dari pemerintah untuk mempromosikan kuliner khas daerah. Tentu kita tidak inginkan kuliner bercitarasa tinggi ini akan punah.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved