Breaking News:

Jurnalisme Warga

Ketahanan Energi Melalui Jargas Aceh

Sejak ditemukan ladang gas Arun Blok ‘B’ tahun 1971 oleh Mobil Oil, dibangunlah kilang produksi “liquefaction natural gas” (LNG) pada tahun 1974

Editor: bakri
Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Guru Besar IESP Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) Aceh, melaporkan dari Lhokseumawe 

OLEH Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Guru Besar IESP Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) Aceh, melaporkan dari Lhokseumawe

Sejak ditemukan ladang gas Arun Blok ‘B’ tahun 1971 oleh Mobil Oil, dibangunlah kilang produksi “liquefaction natural gas” (LNG) pada tahun 1974. Sejak itu pula Lhokseumawe dijuluki “kota petrodolar”, kota penghasil gas alam cair yang gasnya dikirim ke Jepang dan Korea.

Setelah 42 tahun dieksploitasi,  kapasitas gas yang ada di bumi Aceh pun berkurang, maka tahun 2016  ExxonMobil mengakhiri kontraknya dengan Pertamina. Kemudian, Pemerintah Indonesia membentuk PT Perta Arun Gas (PAG) untuk memanfaatkan pabrik peninggalan PT Arun NGL.

Untuk menjaga ketahanan energi nasional, pemerintah melalui Pertamina memanfaatkan kilang eks PT Arun NGL yang mempunyai aset sebesar 7 triliun untuk dimanfaatkan sebagai kilang regasifikasi yang pertama di Indonesia. Pada tahun 2013 mulai dilakukan proyek kilang regasifikasi Arun oleh Pertamina, sehingga tahun 2015 PT Arun NGL resmi dibubarkan dan kilang eks Arun dikelola oleh cucu Pertamina, yaitu PT Perta Arun Gas dengan bisnis regasifikasi dan LNG Receiving Hub.

Eks kilang Arun, selain dialihfungsikan ke kilang regasifikasi juga terdapat kilang pengolahan gas, yaitu Kilang Sulfur Recovery Unit (SRU) dan Treating Gas yang saat ini dikelola oleh Pertamina Hulu Energi (PHE).

Selain itu, di bekas lahan eks Arun juga dibangun fasilitas kondensat dan sulfur Medco. Sebagaimana diungkapkan Chasril Hanif, PT Perta Arun Gas memiliki bisnis regasifikasi dan receiving LNG Hub di mana customer regasifikasi saat ini adalah PLN, Pertagas Niaga (PTGN), dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). LNG milik PLN yang dibeli dari PT Tangguh dilakukan regasifikasi di PAG kemudian dikirim melalui pipa Arun Belawan (Arbe) dengan titik serah metering USM Arun sepanjang 350 km dari Aceh ke Belawan Medan dan untuk Pembangkit Listrik PLTMG 1 dan PLTMG 2 yang ada di Lhokseumawe.

Untuk customer PTGN dibeli dari LNG Bontang kemudian diregasifikasi dan juga dikirim ke Arbel serta LNG trucking untuk kebutuhan industri-industri di Medan.

Selain itu, PTGN juga punya ‘bisnis city gas’ dengan melakukan kerja sama jual beli gas dengan Pertamina Hulu Energi (PHE) untuk menyuplai gas ke PIM dan kebutuhan gas rumah tangga melalui jaringan gas (jargas) yang ada di Lhokseumawe dan Lhoksukon.

Setelah dikuras selama 40 tahun, sumber gas di ladang Arun terjadi penurunan. Tahun 2014 PT Arun NGL melakukan pengapalan terakhir produksi LNG ke Korea.  Pada tahun 2015 ExxonMobil melepaskan semua aset minyak dan gas bumi di Aceh dengan melakukan peralihan hak penyertaan PSC Block North Sumatera Offshore (Block NSO) dan Block B Ladang gas Arun ke Pertamina serta menjual semua kepemilikan sahamnya di PT Arun NGL.

Sejak  tahun 2015 hingga Mei 2021 pengelolaan blok tersebut dilakukan oleh anak perusahaan Pertamina, yaitu PHE. Terhitung Mei 2021 pengelolaan Blok B ladang gas Arun sedang dilakukan transisi pengelolaan ke PT Pema Global Energi (PGE), yaitu perusahaan Pemerintah Aceh dan untuk Block North Sumatra Offshore (NSO) masih dikelola oleh PHE.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved