Breaking News:

Jurnalisme Warga

Lampu Merah dan Pengemis

Untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan terutama di persimpangan jalan, pemerintah telah memasang traffic light

Editor: bakri
Lampu Merah dan Pengemis
CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen Fakutas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen Fakutas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan terutama di persimpangan jalan, pemerintah telah memasang traffic light (populer dengan sebutan lampu merah atau lampu stop). Lampu ini biasanya dipasang di dua sisi kanan dan kiri, juga di atas tengah jalan perempatan atau pertigaan. 

Waktu menyala antarlampu sudah diplot, lebih lama waktu berhenti daripada jalan. Waktu yang hanya berapa menit ini dapat kita gunakan untuk mengecek atau melirik lampu indikator mobil apakah ada masalah, karena kesibukan mungkin belum sempat kita cek di pagi hari pada saat mobil dipanaskan.

Sepanjang lampu merah yang pernah saya lewati di hampir seluruh kota yang saya kunjungi selalu ada pengemis,  peminta-minta, dan pengamen. Khusus di Aceh, jarang kita jumpai pengamen di perempatan atau di pertigaan jalan, kecuali di kafe atau restoran yang ramai pengunjungnya.

Ketiga jenis pekerjaan yang umumnya “berkantor” di lampu merah ini, berdasarkan pengamatan saya dan beberapa referensi, pengemis dapat dikatakan orang yang meminta-minta untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Peminta-minta adalah perorangan atau kelompok yang mengumpulkan/menggalang dana untuk suatu keperluan seperti bantuan musibah bencana alam, bantuan perang seperti penggalangan dana untuk Palestina. Ada juga yang keperluannya mengatasnamakan pesantren, anak yatim piatu, atau kaum duafa.

Adapun pengamen adalah seorang atau sekelompok penari, pemain musik atau penyanyi yang tidak tetap pertunjukannya, dana yang berhasil mereka kumpul untuk dinikmati sendiri.

Manusia diberi kesempatan untuk mencari rezeki di kala matahari mulai terbit dan kembali saat terbenam. Pintu rezeki begitu luas terbentang, siapa yang ingin meraih anugerah-Nya hendaklah berusaha dengan jalan yang benar, diiringi dengan doa dan ikhtiar tanpa lelah. Walaupun sedikit pendapatan kita hari ini, itulah rezeki kita.

Jalan nasional Banda Aceh-Medan ±15 km hampir setiap hari saya lalui dari Pante Gajah, Peusangan menuju Bireuen. Berbagai tingkah pengguna jalan menghiasi perjalanan saya menuju tempat kerja ke Kampus Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki)  Bireuen.

Ketika berhenti di lampu merah, tepatnya di Simpang Empat Bireuen, saya selalu dihampiri oleh pengemis yang berdiri tepat di bawah tanda larangan. Rasa kasihan dan iba terkadang menyebabkan saya melawan amaran pada papan peringatan yang bertuliskan “Di tempat ini tidak melayani peminta-minta dan pengemis”, dengan memberikan sedekah kepada peminta-minta. Namun, dalam hati kecil saya menyadari telah melakukan kesalahan melawan aturan yang telah dibuat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen.

Sudah hampir lima bulan kejadian seperti di atas saya alami dan akhirnya saya beranikan diri bertanya kepada seorang pengemis, mengapa dia mau bekerja sebagai pengemis dan dari mana asalnya. Pertanyaan saya dia jawab tangkas: Saya berasal dari Pidie Jaya, tak ada pekerjaan lain yang dapat saya kerjakan, untuk hidup sehari-hari.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved