Breaking News:

Opini

`Ibu' Para Penyakit Komorbid

PENYAKIT Tidak Menular (PTM) adalah penyakit yang bukan disebabkan oleh pe- nularan virus, bakteri atau kuman

Editor: hasyim
`Ibu' Para Penyakit Komorbid
IST
Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan dan Konselor HIV-AIDS pada RSU Cut Meutia Aceh Utara

PENYAKIT Tidak Menular (PTM) adalah penyakit yang bukan disebabkan oleh pe- nularan virus, bakteri atau kuman, namun lebih banyak disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup. WHO menyebut- nya Non Communicable Di- sease (NCD) adalah penyakit yang tidak menular langsung dari satu orang ke orang lain. Yang termasuk kategori PTM di antaranya adalah di abetes melitus (DM), stroke, penyakit jantung koroner (PJK), kanker, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan.

Dan kabar buruknya, PTM seperti diabetes, hipertensi, kanker, stroke, dan lain-lain sangat berpotensi menjadi penyakit penyerta atau komorbid Co- vid-19 atau penyakit infeksi lainnya. Orang yang meng- idap PTM ini akan menjadi kelompok rentan bila terin- feksi Covid-19. Bahkan menurut Direktur Pencegahan dan Pengen- dalian Penyakit Tidak Me- nular Kemkes RI, Cut Putri Arianie sebutkan diabetes menjadi salah satu penyakit komorbid dengan tingkat ke- matian Covid-19 tertinggi. Sementara hasil riset kese- hatan dasar terakhir tahun 2018 menunjukkan adanya kenaikan PTM di Indonesia. Secara khusus, angka dia- betes sebelumnya 6,9 persen (2013) menjadi 8,5 persen (2018). Berdasarkan data dari International Diabetes Federation tahun 2020, jumlah penderita diabetes tipe-2 terus meningkat di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Kini Indonesia menempati urutan 7 dari 10 negara jumlah pasien diabe- tes tertinggi. Menurut hasil penelitian terbaru oleh tim penanggu- langan Covid-19 di Indonesia, angka kematian pada pasien diabetes terinfeksi Covid-19 meningkat 8,3 kali lipat di- bandingkan dengan masyarakat yang tidak mengidap diabetes. Dilansir laman resmi WHO, diabetes atau awam lebih mengenalnya dengan penyakit kencing manis atau sakit gula adalah penyakit kronis yang terjadi keti- ka pankreas tidak mampu menghasilkan cukup insulin atau tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan in- sulin yang telah dihasilkan.

Insulin merupakan hormon dalam tubuh yang berperan dalam mengatur gula darah (glukosa). Tanpa insulin, tubuh tidak dapat menyerap dan mengo- lah glukosa menjadi sumber energi. Hal ini menyebabkan penumpukan glukosa dalam darah dapat memicu berbagai penyakit. Jika tidak dikontrol dengan baik, sang penderita dapat terkena hiperglikemia (peningkatan glukosa) yang seiring berjalannya waktu dapat menyebabkan keru- sakan serius pada berbagai sistem tubuh terutama saraf dan pembuluh darah.

Pada tingkat komplikasi parah bisa menyebabkan kematian, tidak heran jika penyakit dia- betes ini dikenal juga sebagai pembunuh diam-diam (the silent killer). Kondisi ini terjadi tatkala kadar gula darah penderi- ta diabetes tidak terkontrol, apabila sampai tidak bisa ditanggulangi, diabetes bisa menjadi `ibu' dari berbagai penyakit. Sebut saja penyakit yang dilahirkannya seperti hipertensi, stroke, gagal ginjal, PJK, obesitas, penyem- pitan saraf, dan berbagai komplikasi di organ penting tubuh, seperti mata, otak, kulit dan lainnya. Kini, datangnya virus corona telah melipatgandakan tantangan penderita diabetes.

Dengan kondisi tersebut keseimbangan sistem imun sangat lemah dan tidak ter- jaga dengan baik, sehingga virus akan mudah masuk, maka orang dengan diabetes Sri Mulyati Mukhtar, SkM., MkM Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Madya pada RSU Cut Meutia Aceh Utara, Ikatan Alumni MKM Unmuha akan berisiko tinggi terinfeksi Covid-19. Pada kondisi diabetes pembuluh darah mudah rusak, sedangkan pada Covid-19 terjadi gangguan pembekuan darah yang mempercepat proses kerusakan diseluruh tubuh.

Sehingga pembuluh darah mengalami kerusakan termasuk dalam sistem pem- bekuan darah, akibatnya ter- jadi serangan jantung, stroke dan lainnya. Begitu banyak penyakit lahir setelah diabetes, maka di masa pandemi ini kondi- si penderita diabetes kian memburuk. Saat ini pasien Covid-19 dengan komorbid diabetes sangat banyak di- rawat di rumah sakit, dan ternyata penyumbang kema- tiaannya adalah penyakit penyertanya seperti hipertensi, stroke, dan lain-lain.

Sesungguhnya penderita diabetes terkena Covid-19 sangat rentan dan berisiko tinggi. Bahkan Centers for Disease Control and Preven- tion (CDC) AS menunjukkan, tingkat keparahan pasien Covid-19 dengan diabetes sebesar 32 persen dibanding pasien tidak punya riwayat diabetes (9,4 persen). Untuk prevalensi pasien diabetes bertahan dari Covid-19 sa- ngat rendah dibanding yang meninggal. Melihat fakta tersebut, ada upaya agar pasien diabetes melitus dan PTM lainnya tidak terserang Covid-19, yaitu dengan tetap jalani kebiasaan hidup sehat, menjaga protokol kesehatan, jaga terus asupan makanan dan minuman dan tetap rutin melakukan peme- riksaan kesehatan ke dokter serta minum obat secara ter- atur.

Meskipun dalam suasana Covid-19 konsultasi dengan dokter saat ini bisa dilakukan dengan bantuan telemedis atau konsultasi daring. Sementara itu Kemenkes RI memberikan panduan untuk pencegahan PTM (di- abetes, hipertensi, PJK, dan lain-lain) yaitu pengendalian faktor risiko dengan me- nerapkan perilaku CERDIK yaitu: Pertama, Cek Kese- hatan Secara Berkala: lang- kah ini bisa membantu mendeteksi penyakit sejak dini, dengan memonitor tekanan darah, menimbang berat ba- dan, mengukur tinggi badan, mengukur lingkar perut, dan mengukur denyut nadi ser- ta mengecek kadar kolesterol dan gula darah secara teratur.

Kedua, Enyahkan Asap Rokok: merokok bisa ber- dampak buruk bagi kese- hatan bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar kita. Dampak ro- kok juga bukan hanya pada sektor kesehatan, tapi juga keuangan. Ketiga, Rajin Aktivitas Fi- sik/Olahraga: berguna menjaga kesehatan dan mence- gah dari berbagai penyakit, berolahraga secara rutin se- tidaknya minimal selama 30 menit perhari sebanyak 3-5 kali per minggu. Keempat, Diet Sehat dan Seimbang: melakukan diet sehat dan seimbang yakni mengkonsumsi buah dan sayur 5 porsi perhari.

Batasi konsumsi gula tak lebih dari 4 sendok makan perhari per orang dan garam tak lebih dari 1 sendok teh per orang perhari. Batasi pula konsum- si lemak atau minyak tak lebih dari 5 sendok makan perhari per orang. Kelima, Is- tirahat Cukup: Istirahat yang cukup dengan tidur selama 7-8 jam sehari. Keenam, Ke- lola Stres: Mengelola stres dengan baik, dengan rekre- asi, relaksasi, berpikiran po- sitif dan membina hubungan sosial dengan baik. Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, apalagi diperparah dengan infeksi virus di masa pandemi ini. Akan tetapi manajemen pe- nanganannya sangat perlu diperhatikan, mengingat be- gitu banyak penyakit yang bisa dilahirkan olehnya se- hingga sangat tepat dijuluki `ibu para penyakit komorbid'.

Di akhir tulisan ini, pe- nulis ingin mengajak kita semua terutama para pen- derita diabetes dan tenaga kesehatan untuk menguasai manajemen diabetes selama pandemi Covid-19. Sejatinya penderita bisa hidup sehat bersama diabetes dengan pe- ngelolaan yang baik dan bagi yang belum menderita agar dapat mencegahnya. Tak kalah penting ada- lah dukungan dan support sistem di sekitar si diabetes juga sangat dibutuhkan, utamanya dukungan keluar- ga dan orang-orang terdekat dalam mengelola penyakit di- abetesnya. Tentunya diiringi dengan dukungan pemerin- tah dalam kolaborasi mul- tisektor dan pemberdayaan masyarakat serta edukasi tiada henti. Melalui edukasi yang tepat, penderita dia- betes dan keluarganya bisa lebih tenang dan siap dalam menghadapi pandemi ini. Semoga.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved