Breaking News:

Mantan Penyidik KPK Novel Baswedan dan Febri Mendadak Diikutkan Grup Bitcoin, Diduga Diretas

Membaca pernyataan Febri, Asfinawati menilai peretasan tersebut diduga dilakukan menggunakan teknologi tertentu.

Editor: Said Kamaruzzaman
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Novel Baswedan berpose usai wawancara khusus dengan Tribunnews di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/6/2020). 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Direktur Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menilai tindakan terhadap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Eks Juru Bicara KPK Febri Diansyah, serta beberapa dari 75 pegawai gagal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang disusupkan ke grup investasi bitcoin adalah teror.

Membaca pernyataan Febri, Asfinawati menilai peretasan tersebut diduga dilakukan menggunakan teknologi tertentu.

Hal itu karena, kata dia, Febri telah menggunakan beberapa lapis pengamanan."(Kejadian ini) Teror, juga gangguan untuk memecah konsentrasi, selain gangguan untuk memperlambat gerak," kata Asfinawati ketika dihubungi Tribun pada Senin (21/6/2021).

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, eks Juru Bicara KPK Febri Diansyah, serta beberapa 75 pegawai gagal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) disusupkan ke grup investasi bitcoin di aplikasi Telegram oleh peretas, pada Minggu (20/6) pagi.

Baca juga: Novel Baswedan Ungkap Pernah Diminta Mundur dari KPK Sejak 2016, Alasannya Gara-gara Hal Ini\

Baca juga: Mahfud MD Ungkap Ada Sosok yang Tak Suka dengan Novel Baswedan, Siapakah itu?

Baca juga: 51 Pegawai KPK Tak Lulus TWK akan Diberhentikan, Novel Baswedan Cs Siap Melawan Sampai Akhir

Hal ini sebagaimana disampaikan Febri lewat Twitter resmi miliknya @febridiansyah pada Minggu sore pukul 16.29 WIB.

"WARNING: Saya, Novel @nazaqistsha, bbrapa teman #75PegawaiKPK & yg advokasi, pagi ini tiba2 dimasukan ke group Telegram "Bitcoin Trader Investasi".," cuit Febri, dikutip Tribun. Febri sudah mengizinkan Tribun untuk mengutip cuitannya.

Febri berkata bahwa masuknya ia, Novel Baswedan serta sejumlah 75 pegawai KPK gagal TWK,
dan tim advokasi ke grup investasi bitcoin tanpa persetujuan.

Ia merasa heran karena pada akun telegramnya sudah diatur pembatasan yang bisa memasukkan ke grup.

"Tanpa persetujuan & pemberitahuan. Saya segera report & leave. Padahal setting siapa yg Add Groups & Channels telah dibatasi," tulisnya.

Febri pun membagikan tangkapan layar beberapa nama yang masuk ke dalam grup Telegram 'Bitcoin Trader Investasi'.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved